Mahasiswi "anu" Gede




READ MORE » Mahasiswi "anu" Gede

Cewek Mabuk Sampai Bugil











READ MORE » Cewek Mabuk Sampai Bugil

Girl Cantik Bugil Santai





READ MORE » Girl Cantik Bugil Santai

Berbagi Rasa

Mia, 27 tahun, isteri dari Dicky, 31 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang lumayan supel dalam bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Penampilan Mia biasa saja. Mia bersikap selalu apa adanya dan bersahaja. Dicky adalah seorang suami yang cukup baik dan bertanggung jawab kepada keluarga. Apapun kekurangan dalam rumah tangganya, maka Dicky akan selalu berusaha untuk memperolehnya. Bisa dibilang, rumah tangga mereka adalah harmonis.
Pada waktu malam acara 17 Agustusan tahun 2003, Mia dan Dicky beserta warga lingkungan dimana mereka tinggal mengadakan malam hiburan berupa Organ tunggal. Tua muda, laki-laki perempuan, semua ikut bergembira. Semua turun berjoget mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi. Mula-mula mereka berjoget dengan pasangan masing-masing. Semua bergembira sambil tertawa bebas mengikuti irama musik..
Setelah beberapa lagu, mereka terus berjoget dengan berganti pasangan. Mereka terus bergembira. Mia berjoget dengan seorang bapak, Dicky berjoget dengan seorang anak perempuan remaja.. Begitulah mereka berjoget sampai beberapa lagu dengan berganti pasangan sampai beberapa waktu. Menjelang akhir acara, pada lagu terakhir, Mia berjoget dengan seorang bapak, sedangkan Dicky berjoget dengan Evi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal beberapa rumah dari rumah mereka. Evi, sekitar 40 tahun, ibu dari seorang karyawan swasta yang bekerja dengan sistim shift, mempunyai 2 orang anak yang sudah cukup besar.
Walau sudah berumur tapi penampilan Evi selalu tampak muda karena cara berpakaiannya yang selalu agak seksi dan pandai bermake up. Selintas Mia melirik pada Dicky yang sedang berjoget dengan Evi. Terlihat Dicky sedang tertawa dengan Evi sambil berjoget. Setelah itu kembali Miapun berjoget dan tertawa dengan pasangannya. Menjelang tengah malam acara usai. Semua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira walaupun capek.. Sesampai di rumah, setelah mandi air hangat, Mia dan Dicky segera ke tempat tidur.
“Bagaimana tadi, sayang?” tanya Dicky sambil memeluk Mia.
“Apanya?” kata Mia sambil menempatkan kepalanya di salah satu tangan Dicky.
“Ya tadi waktu kita di tempat pesta tadi,” kata Dicky sambil mengecup bibir mungil Mia.
“Saya benar-benar gembira…” kata Mia sambil tersenyum sambil tangannya mengusap-ngusap dada serta jarinya memainkan puting susu Dicky.
“Harusnya kita sering melakukan acara seperti tadi, jangan cuma setahun sekali…” kata Dicky sambil tangannya masuk ke pakaian tidur Mia. Buah dada Mia diremas dengan mesra.
“Mmhh.. Memangnya kenapa?” kata Mia sambil mencium pipi Dicky lalu mengecup bibirnya.
“Ya kita kan bisa bergembira dengan tetangga yang ada. Jarang sekali kita ngumpul bareng mereka,” ujar Dicky sambil membuka seluruh kancing pakaian tidur Mia.
Lalu dijilatnya puting susu Mia sambil tangannya meremas buah dada Mia yang satu lagi.
“Mmhh…” desah Mia sambil memejamkan matanya.
Sambil tetap menciumi dan menjilati buah dada Mia, tangan Dicky yang tadinya meremas buah dada, turun ke perut lalu disusupkan ke celana dalam Mia. Segera jarinya menyentuh bulu-bulu kemaluan Mia yang tidak terlalu banyak. Mia tetap terpejam sambil sesekali mendesah.. Jari-jari tangan Dicky lalu turun menyusuri belahan belahan memek Mia.
“Ohh…” desah mia keras sambil menggerakkan pinggulnya.
Jari Dicky terus menggosok-gosok belahan memek Mia sampai cairan memek Mia keluar banyak.
“Mmhh…” desah Mia sambil tangannya memegang tangan Dicky yang sedang bermaik di memeknya.
“Enak, sayang,” kata Dicky sambil melumat bibir Mia.
Sementara jari tengah Dicky masuk ke lubang memek Mia. Tanpa menjawab pertanyaan Dicky, Mia membalas ciuman Dicky dengan hebat sambil menjepitkan pahanya lalu menggoyangkan pinggulnya karena menahan kenikmatan ketika jari tangan Dicky keluar masuk lubang memeknya. Sementara tangan Mia segera menyelusup ke dalam celana piyama Dicky, dan kemudian menggenggam dan meremas kontol Dicky yang sudah tegang.
“Buka pakaiannya dong, sayang,” kata Mia berbisik ke telinga Dicky. Dicky segera bangkit lalu melepas seluruh pakaiannya. Kontol Dicky terlihat sudah tegak dengan ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Melihat itu, Mia segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Digenggamnya kontol Dicky lalu dikocok perlahan. Cairan bening terlihat keluar dari lubang kontol Dicky. Tanpa banyak cakap ujung lidah Mia segera menjilati cairan tersebut sambai habis. Tak lama, mulut Mia sudah mengulum batang kontol Dicky yang lumayan besar. Cpok.. Cpok.. Cpok.. Terdengar suara kuluman mulut Mia pada kontol Dicky.
“Ohh.. Enak, sayang.. Ohh…” desah Dicky sambil memegang kepala Mia lalu memompa pelan kontolnya di mulut Mia.
“Gantian, dong…” kata Mia sambil melepas kulumannya lalu menatap mata Dicky. Dicky tersenyum.
“Naiklah ke ranjang…” ujar Dicky.
Miapun segera naik ke atas ranjang lalu telentang dan membuka lebar pahanya. Tak lama, Mia mendesah karena lidah Dicky pintar bermain dan menjilati kelentit dan lubang memek Mia.
“Ohh, sayangg.. Teruss…” desah Mia agak keras.
Apalagi ketika jari Dicky masuk ke lubang memeknya sambil lidahnya tak henti menjileti kelentit Mia. Gerakan pinggul Mia makin keras mengikuti rasa nikmatnya. Tak lama kemudian tangan Mia dengan keras meremas rambut Dicky dan mendesakkan kepalanya ke memek. Lalu..
“Ohh.. Enak, sayangg.. Mmff.. Sshh…” jerit kecil Mia terdengar ketika Mia mencapai puncak kenikmatan.. Orgasme..
Dicky segera menghentikan jilatannya lalu naik ke atas tubuh istrinya itu. Walau mulut masih basah oleh cairan memek Mia, Dicky langsung melumat bibir Mia. Miapun langsung membalas ciuman Dicky dengan hebat. Sambil tetap berciuman, tangan Mia segera memegang dan membimbing kontol Dicky ke lubang memeknya. Selang beberapa detik kemudian.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Dicky lansgung keluar masuk memek Mia. Keduanya bermandi peluh sambil sesekali terdengar desahan kenikmatan mereka.
“Memeknya legit, sayang.. Enak…” bisik Dicky. Mia tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya.
“Memang kenapa?” tanya Mia.
“Aku tidak pernah bosan menyetubuhi kamu…” bisik Dicky sambil terus memompa kontolnya. Mia tersenyum.
“Kalau wanita lain rasanya bagaimana,” tanya Mia lagi.
“Aku tidak pernah bersetubuh dengan wanita lain, kok…” kata Dicky.
Mia tersenyum lalu merangkulkan kedua tangannya ke pundak Dicky sambil tetap menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan kontol Dicky.
“Saya mau tanya, sayang…” kata Mia.
“Apa?” kata Dicky.
“Tubuh Mbak Evi, tetangga kita itu, bagus tidak..?” tanya Mia.
“Ah kamu pertanyaannya ada-ada saja…” kata Dicky tak menghiraukan.
“Saya serius, sayang.. Jawab jujurlah. Tidak apa-apa kok…” kata Mia.
“Tadi lihat belahan buah dadanya tidak?” tanya Mia.
Dicky mengangguk. Mia tersenyum sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
“Jujur.. Iya, tubuh dia bagus. Dan tadi aku sempat lihat belahan buah dadanya. Marah?” kata Dicky sambil mengentikan gerakannya.
Mia tersenyum sambil terus menggoyang pinggulnya.
“Jangan berhenti dong, sayang.. Terus setubuhi saya.. Mmhh…” kata Mia.
“Saya tidak marah kok. Justru saya suka mendengarnya…” kata Mia.
“Kenapa?” tanya Dicky heran.
“Tadi waktu saya lihat kamu berjoget dengan Mbak Evi, tidak tahu kenapa ada perasaan aneh…” kata Mia.
“Tadi tiba-tiba saya membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Evi…” lanjut Mia lagi.
“Kenapa begitu?” tanya Dicky.
“Saya tidak tahu…” kata Mia.
“Kamu cemburu?” tanya Dicky.
“Tidak sama sekali. Justru sebaliknya, saya sangat ingin melihat kamu bermesraan dengan Mbak Evi…” kata Mia.
Dicky tersenyum.
“Kamu lagi horny kali ya, tadi…” kata Dicky tanpa menghentikan gerakan kontolnya.
Mia kembali tersenyum. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, Dicky mengejang, gerakannya bertambah cepat.
“Aku mau keluar, sayang.. Ohh…” bisik Dicky.
“Tahan dulu sebentar, sayang.. Saya juga mau keluar.. Mmhh…” bisik Mia sambil mempercepat gerakan pinggulnya.
Tak lama tubuhnya mengejang, tangannya kuat memeluk tubuh Dicky.
“Mau keluar, sayangghh…” jerit Mia.
“Ohh.. Nikmat, sayang.. Ohh…” jerit kecil Mia ketika mencapai orgasme.
Selang beberapa detik, Dicky juga semakin mempercepat gerakannya. Sampai akhirnya.. Crott.. Crott.. Crott.. Air mani Dicky menyembur di dalam memek Mia. Dicky mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Mia.. Tubuh keduanya lemas saling berpelukan sementara kontol Dicky masuk berada di dalam memek Mia.
“Mau tidak kalau saya minta kamu maen dengan Mbak Evi.. Saya serius,” kata Mia sambil memeluk pundak Dicky.
“Kenapa sih kamu mau yang aneh-aneh begitu?” tanya Dicky.
“Saya tidak tahu jawabnya, sayang.. Yang jelas ada perasaan horny ketika membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Evi…” kata Mia.
“Mau kan, sayang?” tanya Mia memaksa.
“Kalau aku mau, bagaimana caranya, sayang…” kata Dicky sambil mengecup bibir istrinya.
“Nanti aku yang mengatur…” kata Mia sambil tersenyum.
Dicky juga tersenyum sambil mencabut kontolnya dari memek Mia, lalu bangkit dan berpakaian. Merekapun tidur kemudian.. Banyak cara yang dilakukan Mia agar Evi bisa dekat dengan dan akrab dengan dia dan Dicky. Dan hal itu membuahkan hasil. Evi sekarang mulai sering bertandang ke rumah mereka walaupun hanya untuk sekedar ngobrol.
Sampai suatu malam Mia mengundang Evi datang ke rumahnya.
“Mas Wiryo sudah pergi kerja kan, Mbak?” tanya Mia.
“Sudah dari tadi dong.. Dia dapat bagian shift malam,” ujar Evi.
“Eh ada apa undang saya ini malam?” tanya Evi.
“Tidak ada apa-apa kok, Mbak…” kata Mia.
“Kami hanya ingin ajak Mbak nonton VCD baru yang dibeli Mas Dicky,” kata Mia sambil melirik kepada Dicky.
Dicky membalas dengan senyuman.
“VCD begituan ya?” tanya Evi bersemangat.
Mia tersenyum sambil melirik Dicky.
“Cepatlah putar!” ujar Evi tidak sabar. Dicky bangkit dari tempat duduknya lalu menuju ke VCD player.
“Mbak Evi suka film jenis apa?” tanya Dicky sambil menyodorkan beberapa keping VCD.
Setelah memilih, Evi segera menyerahkan film yang ingin dilihatnya. Dicky segera memutarnya. Mereka bertiga menonton film BF tanpa banyak bicara. Mereka duduk bertiga di karpet. Mia duduk berdampingan dengan Evi, sementara Dicky duduk dibelakang mereka.
“Udah ada yang bangun, ya..?” kata Mia tersenyum sambil melirik ke arah Dicky.
“Lumayan…” kata Dicky.
“Lumayan apa?” tanya Evi sambil matanya sedikit melirik ke arah selangkangan Dicky yang mulai agak menggembung. Dicky tersenyum sambil menutupi kakinya dengan bantal.
“Mbak Evi seberapa sering begituan dengan Mas Wiryo?” tanya Mia.
“Ah, jarang sekali.. Mungkin karena dia capek,” kata Evi sambil matanya terus melihat adegan seronok di video.
Kembali mereka terdiam selama beberapa saat sambil melihat video.
“Sini dong..!” kata Mia kepada Dicky sambil matanya berkedip memberi isyarat. Dicky beringsut mendekati Mia.
“Ada apa sih..?” tanya Dicky.
“Duduk dekat sini dong…” kata Mia dengan suara manja.
Dengan sengaja tangan Mia segera masuk ke dalam Celana Hawaii Dicky. Lalu digenggamnya kontol Dicky yang sudah tegang dan diremasnya pelan. Evi yang melihat hal itu, perasaannya menjadi tak karuan.. Antara rasa malu dan rasa ingin melihat bercamput baur.
“Udah pengen ya?” kata Mia kepada Dicky.
Suaranya sengaja agak keras. Dicky tersenyum sambil matanya melirik ker arah Evi. Evi yang semakin tidak menentu perasaannya, kebetulan melirik ke arah Dicky. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik. Evi lalu membuang pandangannya ke arah video. Hatinya berdebar ketika berpandangan dengan Dicky.. Mia melirik ke arah Dicky sambil tersenyum. Lalu dengan tanpa ragu-ragu, Mia menurunkan celana Dicky hingga kontolnya yang besar tampak tegak terlihat. Lalu dikocoknya pelan.. Dicky tetap diam sambil matanya melirik ke arah Evi yang jelas kelihatan gelisah.
“Mbak suka tidak pada barang lelaki yang berbulu banyak?” tanya Mia sambil menatap Evi.
“Mm.. Eh.. Iya.. Iya.. Saya suka…” kata Evi tergagap menatap Mia sambil matanya sekilas melirik ke tangan Mia yang sedang meremas kontol Dicky.
“Kalau kayak gini suka tidak, Mbak?” tanya Mia sambil matanya mengisyaratkan agar Evi melihat ke kontol Dicky.
“Ah, kamu ini…” kata Evi sambil matanya melihat kontol Dicky beberapa saat.
Mia tersenyum. Tangannya meraih tangan Evi, lalu ditariknya ke arah kontol Dicky. Evi menuruti kemauan Mia walau hatinya merasa serba salah..
“Coba pegang, Mbak…” kata Mia sambil tangannya membimbing jari-jari Evi untuk menggenggam kontol Dicky.
Kontol Dicky terasa hangat dan berdenyut di tangan Evi. Nafas Evi memburu. Ada desiran tertentu yang menuntun tangannya bergerak meremas pelan kontol Dicky. Dicky tersenyum sambil melirik ke arah Mia. Mia juga tersenyum sambil mundur agak menjauh. Dicky tanpa diduga tangannya meraih dagu Evi, lalu dengan segera mengecup bibirnya, lalu dilumatnya dengan hangat. Evi yang sudah terangsang gairahnya langsung membalas ciuman Dicky dengan hangat pula sambil tangannya mulai berani mengocok kontol Dicky. Tangan Dickypun dengan segera menyusup ke balik daster Evi. Ditelusuri paha Evi. Elusan tangannya segera naik ke pangkal paha, lalu jarinya diselipkan ke celana dalam Evi.
“Mmhh…” desah Evi sambil menggelinjang ketika jari tangan Dicky menyusuri belahan memeknya yang sudah sangat basah.
“Ohh.. Mmhh…” desah Evi tambah keras ketika jari Dicky keluar masuk lubang memknya.
Pinggulnya sedikit digoyang karena nikmat. Sementara Mia sengaja menjauhkan diri dari mereka. Mia mendapat suatu rangsangan yang amat sangat ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita yang Mia sukai. Mia tidak melakukan apapun hanya diam sambil melihat mereka bermesraan. Hanya nafas Mia yang mulai cepat yang terdengar.. Ketika tangan Dicky mulai mencoba melepas pakaian Evi, Evi agak tersentak sesaat. Dengan segera matanya menatap Mia. Tapi ketika dilihatnya Mia tersenyum sambil matanya mengisyaratkan agar Evi melanjutkan bercinta lagi..
Evi sesaat terdiam. Tapi ketika tangan Dicky merangkul dari belakang dan tangannya meremas buah dada Evi, Evi terpejam dan memegang tangan Dicky yang sedang meremas buah dadanya.
“Ohh…” desah Evi seiring dengan jilatan dan pagutan Dicky di lehernya sambil tak lepas tangannya meremas buah dada Evi.
Tak lama Dicky segera melepas daster Evi. Evi tampak agak canggung ketika Dicky melepas BH dan celana dalamnya dari belakang. Dickypun melepas seluruh pakaiannya. Segera setelah itu Dicky menindih tubuh telanjang Evi. Jilatan lidah dan remasan tangan Dicky pada buah dada Evi membuat Evi menggelinjang merasakan nikmat.
“Ohh.. Oohh…” desah Evi ketika jilatan lidah Dicky turun ke perut lalu turun lagi menyusuri selangkangannya.
Pinggulnya bergoyang mengikuti desiran rasa nikmat.. Mia tetap diam menyaksikan tubuh telanjang suaminya yang bergumul mesra dengan Evi. Nafasnya makin memburu waktu melihat kontol Dicky dihisap sambil dikocok oleh Evi. Tanpa terasa tangannya menyelusup ke dalam celana dalamnya. Lalu jarinya mulai menggosok-gosok belahan memeknya sendiri. Entah mengapa Mia sangat menikmati ketika Dicky memompa kontolnya ke dalam mulut Evi. Nafas Mia semakin memburu, juga satu jarinya semakin cepat keluar masuk memeknya sendiri ketika melihat Dicky mulai menyetubuhi Evi. Desahan dan erangan mereka membuat gairah Mia bertambah naik..
“Ohh.. Sshh…” desah Evi ketika Dicky dengan perkasa mengeluar masukkan kontol di memeknya.
“Gimana rasanya, Mbak?” tanya Dicky sambil mengecup bibir Evi.
“Ohh sangat enakk.. Mmhh…” kata Evi sambil merangkul pundak Dicky, sementara pinggulnya bergoyang mengikuti gerakan Dicky.
Entah sudah berapa lama mereka bersetubuh disaksikan Mia, sampai akhirnya Evi memeluk tubuh Dicky kuat-kuat. Memeknya didesakan ke kontol dicky dalam-dalam. Gerakan pinggulnya makin cepat. Lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar sambil mendesah panjang.
“Oohh.. Oohh…” desah Evi terkulai lemas setelah mendapat orgasme.
Sementara Dicky masih terus menggenjot kontolnya di memek Evi yang sudah lemas. Gerakannya makin cepat ketika Dicky merasakan ada sesuatu yang mendesak nikmat di kontolnya. Tak lama segera dicabut kontolnya dari memek Evi, lalu digesek-gesekannya pada belahan memek Evi.
Sampai akhirnya.. Crott! Crott! Crott! Air mani Dicky tumpah banyak di atas bulu-bulu memek Evi. Tubuh Dicky lalu lemas terkulai di atas tubuh telanjang Evi. Mia yang melihat hal itu segera menghampiri mereka. Diusapnya pantay Dicky.
“Masih kuat tidak, sayang..?” bisik Mia ke telinga Dicky.
Dicky segera mencabut kontolnya dari memek Evi lalu bangkit. Evi juga demikian.
“Kenapa sayang?” tanya Dicky sambil mengecup bibir Mia.
“Saya pengen…” kata Mia sambil memegang kontol Dicky yang lemas dan masih basah.
“Aku masih lemas, sayang…” kata Dicky.
“Sebentar lagi saya minta jatah ya, sayang…” kata Mia sambil mencium bibir Dicky.
“Gimana, Mbak?” tanya Mia kepada Evi sambil tersenyum. Evi tersenyum sambil berpakaian.
“Aku bisa ketagihan, loh…” kata Evi.
“Kapan saja Mbak perlu, datang saja kesini…” kata Mia tersenyum pula.
“Aku pulang dulu ya,” kata Evi sambil memeluk Mia erat.
Mia menggangguk
*****
Menurut pengakuan Mia, sudah beberapa puluh kali Evi bersetubuh dengan suaminya di depan mata. Mia bukan biseks. Mia hanya merasa mendapat suatu gairah dan rangsangan yang sangat kuat ketika melihat suaminya menyetubuhi wanita lain yang disukai Mia sendiri. Dan menurut Mia juga, sampai detik ini mereka tidak pernah main bertiga. Hal ini yang membuat suasana hidup Mia menjadi berwarna cerah.. Demikian.
E N D
READ MORE » Berbagi Rasa

Bercinta dengan Gigolo

Setelah lama berpetualang dengan Hendra, aku perlu juga variasi bermain sex yang lain, dengan ragu-ragu akhirnya kuusulkan ke Hendra untuk memanggil gigolo supaya permainan bertambah menarik. Dengan berat hati Hendra menyetujui dengan syarat aku yang mencari dan dia yang memutuskan atau memilih orangnya.
Setelah mencari informasi dari sana sini, akhirnya kudapatkan nomor telepon jaringan gigolo, aku tidak mau lewat milist yang banyak menawarkan diri, karena dari pengalaman mereka hanya besar nyali dan nafsu saja, tapi tidak dengan stamina dan variasi permainan. Sesuai dengan kesepakatan dengan seorang GM, akhirnya dia akan mengirim 3 orang untuk kami pilih di tempat kami menginap, uang bukanlah masalah bagi kami.
Pada hari yang sudah ditetapkan, kami check in di Hotel Sahid. Tidak lama kemudian datanglah sang GM dengan membawa 3 anak muda ganteng dan macho, mungkin dibawah 25 tahun. Ketiganya memang kelihatan begitu atletis dan tampan, tapi satu sudah out karena terlalu pendek, sedangkan dua lainnya mampunyai tinggi paling tidak sama denganku, yang menjadi masalah bagiku adalah memilih di antaranya.
Terus terang agak nervous juga aku, karena belum pernah aku membayar untuk urusan sex. Setelah berpikir sejenak akhirnya aku menyuruh mereka bertiga untuk telanjang di hadapan kami, sesaat mereka ragu, tapi akhirnya mau juga setelah kupancing dengan membuka baju atasku hingga terlihat bra merahku. Dari pandangan matanya aku tahu bahwa mereka tertarik denganku, bahkan tanpa dibayar pun aku yakin mereka mau melakukannya. Kupikir hanya orang gila saja yang tidak tertarik dengan postur tubuhku yang putih seperti Cina, tinggi semampai, sexy, dan wajah cantik, paling tidak itulah yang sering dikatakan laki-laki.
“Oke, yang tidak terpilih, kalian boleh memegang buah dadaku ini sebelum pergi asal mau telanjang di depanku sekarang.” kataku menggoda, dengan demikian aku dapat melihat kejantanan mereka saat tegang, itulah yang menjadi pertimbanganku.
Serempak mereka melepas pakaiannya secara bersamaan, telanjang di depanku. Hasilnya cukup mengejutkanku, ternyata disamping memiliki tubuh yang atletis, ternyata mereka mempunyai alat kejantanan yang mengagumkan, aku dibuat takjub karenanya. Rata-rata panjang kejantanan mereka hampir sama, tapi besar diameter dan bentuk kejantanan itu yang berbeda, kalau tidak ‘malu’ dengan Hendra mungkin kupilih keduanya langsung.
Pandanganku tertuju pada yang di ujung, alat kejantanannya yang besar, aku membayangkan mungkin mulutku tidak akan cukup untuk mengulumnya, hingga akhirnya kuputuskan untuk memilih dia. Namanya Rio, mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi swasta di Jakarta.
“Rio tinggal di sini, lainnya mungkin lain kali.” kataku mengakhiri masa pemilihan.
Setelah pilihan diambil, maka dua lainnya segera berpakaian dan menghampiri aku yang masih tidak berbaju. Mula-mula si pendek mendekatiku dan memelukku, tingginya hanya setelingaku. Diciumnya leherku dan tangannya meremas lembut buah dadaku, lalu wajahnya dibenamkan ke dadaku, diusap-usap sejenak sambil tetap meremas-remas menikmati kenyalnya buah dadaku, lalu dia pergi. Berikutnya langsung meremas-remas buah dadaku, jari tangannya menyelinap di balik bra, mempermainkan sejenak sambil mencium pipiku.
“Mbak mempunyai buah dada dan puting yang bagus.” bisiknya, kemudian dia pergi, hingga tinggal kami bertiga di kamar, aku, Rio dan Hendra yang dari tadi hanya memperhatikan, tidak ada komentar dari dia kalau setuju atas pilihanku.
“Rio, temenin aku mandi ya, biar segar..!” kataku, sebenarnya agak ragu juga bagaimana untuk memulainya.
“Ayo Tante, entar Rio mandiin.” jawabnya.
“Emang aku udah Tante-Tante..?” jawabku ketus, “Panggil aku Lily.” lanjutku sambil menuju kamar mandi, meninggalkan Hendra sendirian.
Sesampai di kamar mandi, Rio langsung mencium tengkukku, membuatku merinding. Dipeluknya aku dari belakang sambil ciumannya berlanjut ke belakang telingaku hingga leher. Kedua tangannya mulai meraba-raba buah dadaku yang masih terbungkus bra merahku.
“Rio, kamu nakal..!” desahku sambil tanganku meraba ke belakang mencari pegangan di antara kedua kaki Rio yang masih telanjang.
“Abis Mbak menggoda terus sih,” bisiknya disela-sela ciumannya di telinga.
Tangannya diturunkan ke celana jeans-ku, tanpa menghentikan ciumannya, dia membuka celana jeans-ku, hingga sekarang aku tingal bikini merahku. Ciumannya sudah sampai di pundak, dengan gigitan lembut diturunkan tali bra-ku hingga turun ke lengan, begitu pula yang satunya, sepertinya dia sudah terlatih untuk menelanjangi wanita dengan erotis dan perlahan, semakin perlahan semakin menggoda. Perlahan tapi pasti aku dibuatnya makin terbakar birahi.
Rio mendudukkan tubuhku di meja toilet kamar mandi, dia berlutut di depanku, dicium dan dijilatinya betis hingga paha. Perlahan dia menarik turun celana dalam merah hingga terlepas dari tempatnya, jilatan Rio sungguh lain dari yang pernah kualami, begitu sensual, entah pakai metode apa hingga aku dibuat kelojotan. Kepalanya sudah membenam di antara kedua pahaku, tapi aku belum merasakan sentuhan pada daerah kewanitaanku, hanya kurasakan jilatan di sekitar selangkangan dan daerah anus, aku dibuat semakin kelojotan.
Sepintas kulihat Hendra berdiri di pintu kamar mandi melihat bagaimana Rio menservisku, tapi tidak kuperhatikan lebih lanjut karena jilatan Rio semakin ganas di daerah kewanitaanku, hingga kurasakan jilatan di bibir vaginaku. Lidahnya terasa menari-nari di pintu kenikmatan itu, kupegang kepalanya dan kubenamkan lebih dalam ke vaginaku, entah dia dapat bernapas atau tidak aku tidak perduli, aku ingin mendapat kenikmatan yang lebih. Jilatan lidah Rio sudah mencapai vaginaku, permainan lidahnya memang tiada duanya, saat ini the best dibandingkan lainnya, bahkan dibandingkan dengan suamiku yang selalu kubanggakan permainan sex-nya.
Rio berdiri di hadapanku, kejantanannya yang besar dan tegang hanya berjarak beberapa centimeter dari vaginaku. Sebenarnya aku sudah siap, tapi lagi-lagi dia tidak mau melakukan secara langsung, kembali dia mencium mulutku dan untuk kesekian kalinya kurasakan permainan lidahnya di mulutku terasa meledakkan birahiku, sementara jari tangannya sudah bermain di liang kenikmatanku menggantikan tugas lidahnya. Aku tidak mau melepaskan ciumannya, benar-benar kunikmati saat itu, seperti anak SMU yang baru pertama kali berciuman, tapi kali ini jauh lebih menggairahkan.
Ciuman Rio berpindah ke leherku, terus turun menyusuri dada hingga belahan dadaku. Dengan sekali sentil di kaitan belakang, terlepaslah bra merah dari tubuhku, membuatku telanjang di depannya. Aku siap menerima permainan lidah Rio di buah dadaku, terutama kunantikan permainan di putingku yang sudah mengencang. Dan aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk itu, kembali kurasakan permainan lidah Rio di putingku, dan kembali pula kurasakan sensasi-sensasi baru dari permainan lidah. Aku benar-benar dibuat terbakar, napasku sudah tidak karuan, kombinasi antara permainan lidah di puting dan permainan jari di vaginaku terlalu berlebihan bagiku, aku tidak dapat menahan lebih lama lagi, ingin meledak rasanya.
“Rio, pleassee, sekarang ya..!” pintaku sambil mendorong tubuh atletisnya.
“Pake kondom Mbak..?” tanyanya sambil mengusap-usapkan kepala kejantanannya di bibir vaginaku yang sudah basah, sah, sah, sah.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, biasanya aku tidak pernah pakai kondom, tapi karena kali ini aku bercinta dengan seorang gigolo, aku harus berhati-hati, meskipun dengan lainnya belum tentu lebih baik. Kalau seandainya dia langsung memasukkan kejantannya ke vaginaku, aku tidak akan keberatan, tapi dengan pertanyaan ini aku jadi bingung. Kulihat ke arah Hendra yang dari tadi memperhatikan, tapi tidak kudapat jawaban dari dia.
Tidak ada waktu lagi, pikirku. Maka tanpa menjawab, kutarik tubuhnya dan dia mengerti isyaratku. Perlahan didorongnya kejantanannya yang sebesar pisang Ambon itu masuk ke liang kenikmatanku, vaginaku terasa melar. Makin dalam batang kejantanannya masuk kurasakan seolah makin membesar, vaginaku terasa penuh ketika Rio melesakkan seluruhnya ke dalam.
“Aagh.. yess.. ennak Sayang..!” bisikku sambil memandang ke wajah Rio yang ganteng dan macho, expresinya dingin, tapi aku tahu dia begitu menikmatinya.
“Pelan ya Sayang..!” pintaku sambil mencengkeramkan otot vaginaku pada kejantanannya.
Kulihat wajaah Rio menegang, tangan kanannya meremas buah dadaku sedang tangan kirinya meremas pantatku sambil menahan gerakan tubuhku.
Kurasakan kejantanan Rio pelan-pelan ditarik keluar, dan dimasukkan lagi saat setengah batangnya keluar, begitu seterusnya, makin lama makin cepat.
“Oohh.. yaa.., truss..! Yes.., I love it..!” desahku, menerima kocokan kejantanan Rio di vaginaku.
Rio dengan irama yang teratur memompa vaginaku, sambil mempermainkan lidahnya di leher dan bibirku. Aku tak bisa lagi mengontrol gerakanku, desahanku semakin berisik terdengar. Rio mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan di pundaknya, kurasakan penetrasinya semakin dalam di vaginaku, menyentuh relung vagina yang paling dalam. Kocokan Rio semakin cepat dan keras, diselingi goyangan pantat menambah sensasi yang kurasakan.
“Sshhit.., fuck me like a bitch..!” desahanku sudah ngaco, keringat sudah membasahi tubuhku, begitu juga dengan Rio, menambah pesona sexy pada tubuhnya.
Aku hampir mencapai puncak kenikmatan ketika Rio menghentikan kocokannya, dan memintaku untuk berdiri, tentu saja aku sedikit kecewa, tapi aku percaya kalau dia akan memberikan yang terbaik.
“Mau dilanjutin di sini atau pindah ke ranjang..?” tanyanya terus menjilati putingku.
Tanpa menjawab aku langsung membelakanginya dan kubungkukkan badanku, rupanya dia sudah tahu mauku, langsung mengarahkan kejantanannya ke vaginaku. Kuangkat kaki kananku dan dia menahan dengan tangannya, sehingga kejantanannya dapat masuk dengan mudah. Dengan sedikit bimbingan, melesaklah batang kejantanan itu ke vaginaku, dan Rio langsung menyodok dengan keras, terasa sampai menyentuh dinding dalam batas terakhir vaginaku, terdongak aku dibuatnya karena kaget.
“Aauugghh.., yes.., teruss.., yaa..!” teriakku larut dalam kenikmatan.
Sodokan demi sodokan kunikmati, Rio menurunkan kakiku, dan kurentangkan lebar sambil tanganku tertumpu pada meja toilet, tangan Rio memegang pinggulku dan menariknya saat dia menyodok ke arahku, begitu seterusnya. Rasanya sudah tidak tahan lagi, ketika tangan Rio meremas buah dadaku dan mempermainkan putingku dengan jari tangannya, sensasinya terlalu berlebihan, apalagi keberadaan Hendra yang dengan setia menyaksikan pertunjukan kami sambil memegang kejantanannya sendiri.
“Rio a.. ak.. aku.. sud.. sudah.. nggak ta.. ta.. han..!” desahku, ternyata Rio langsung menghentikan gerakannya.
“Jangan dulu Sayang, kamu belum merasakan yang lebih hebat.” katanya, tapi terlambat, aku sudah mencapai puncak kenikmatan terlebih dahulu.
“Aaughh.., yess.., yess..!” teriakku mengiringi orgasme yang kualami, denyutan di vaginaku terasa terganjal begitu besar.
Rio hanya mendesah sesaat sambil tangannya tetap meremas buah dadaku yang ikut menegang.
“Ayo Rio, keluarin sekarang, jangan goda aku lagi..!” pintaku memelas karena lemas.
Rio mengambil handuk dan ditaruhnya di lantai, lalu dia memintaku berlutut, rupanya Rio menginginkan doggie style, kuturuti permintaannya. Sekarang posisiku merangkak di lantai dengan lututku beralaskan tumpukan handuk, menghadap ke pintu ke arah Hendra.
Rio mendatangiku dari belakang, mengatur posisinya untuk memudahkan penetrasi ke vaginaku. Setelah menyapukan kejantanannya yang masih menegang, dengan sekali dorong masuklah semua kejantanan itu ke vaginaku. Meskipun sudah berulang kali terkocok oleh kejantanannya, tidak urung terkaget juga aku dibuatnya. Rio langsung memacu kocokannya dengan cepat seperti piston mobil dengan silindernya pada putaran di atas 3000 rpm, kenikmatan langsung menyelimuti tubuhku.
Rio menarik rambutku ke belakang sehingga aku terdongak tepat mengarah ke Hendra. Berpegangan pada rambutku Rio mempermainkan kocokannya, sesekali pantatnya digoyang ke kiri dan ke kanan, atau turun naik, sehingga vaginaku seperti diaduk-aduk kejantanannya. Dia sungguh pandai menyenangkan hati wanita karena permainannya yang penuh variasi dan diluar dugaan.
Tiba-tiba kudengar teriakan dari Hendra, tepat ketika aku mendongak ke arah dia, menyemprotlah sperma dia dari tempatnya dan tepat mengenai wajah dan rambutku. Ternyata sambil menikmati permainan kami, dia mengocok sendiri kejantanannya alias self service. Rio mengangkat badannya tanpa melepas kejantanannya dariku, kini posisi dia menungging, sehingga kejantanannya makin menancap di vaginaku tanpa menurunkan tempo permainannya. Aku sudah tidak tahan diperlakukan demikian, dan untuk kedua kalinya aku mengalami orgasme hebat dalam waktu yang relatif singkat, sementara Rio masih tetap tegar menantang.
“Masih kuat untuk melanjutkan Mbak..?” tantang dia.
Kalau seandainya dia tidak bertanya seperti itu aku pasti minta waktu istirahat dulu, tapi dengan pertanyaan itu, aku merasa tertantang untuk adu kuat, dan tantangan itu tidak dapat kutolak begitu saja. Sebagai jawaban, kukeluarkan kejantanannya dari tubuhku, kuminta dia rebah di lantai kamar mandi beralas handuk, aku juga ingin ngerjain dia, pikirku.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, begitu dia telentang, kukangkangkan kakiku di wajahnya hingga dia dapat merasakan cairan orgasme yang meleleh dari vaginaku. Rasain, pikirku. Tapi aku salah, ternyata dia malah dengan senang hati menghisap vaginaku hingga terasa kering dan kembali mempermainkan lidah mautnya di vaginaku.
“Sialan, kalau begini aku bisa keluar lagi dan pasti KO.” pikirku.
Maka aku langsung berganti posisi. Sekarang aku di atas dia, berarti kendali ada di tanganku dan akan kubuat dia kelojotan mencapai orgasme segera, pikirku lagi. Tanpa membuang waktu lebih lama, kumulai gerakan andalanku, yaitu ber-hula hop di atasnya sehingga aku yakin kejantanannya seperti terpilin-pilin di vaginaku.
Agak kesulitan juga aku ber-hula hop karena terasa kejantanannya yang besar mengganjal di dalam dan mengganggu gerakanku. Semakin kupaksakan semakin nikmat rasanya dan semakin cepat gerakan bergoyangku kenikmatan itu semakin bertambah, maka hula hop-ku semakin cepat dan tambah tidak beraturan. Kuamati wajah Rio yang ganteng bersimbah peluh dan terlihat menegang dalam kenikmatan, tangannya meremas-remas buah dadaku dengan liarnya sambil mempermainkan putingku.
Hampir saja aku orgasme lagi kalau tidak segera kuhentikan gerakanku, tapi ternyata Rio tidak mau berhenti. Ketika aku menghentikan gerakanku, ternyata justru dia menggoyang tubuhku sambil menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga vaginaku tetap terkocok dari bawah, dan kembali orgasmeku tidak terbendung lagi untuk kesekian kalinya.
Rio tetap saja mengocok, meski dia tahu aku sedang di puncak kenikmatan birahi. Kali ini aku benar-benar lemes mes mes, tapi Rio tidak juga mengentikan gerakannya. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, sehingga kami saling berpelukan. Dinginnya AC tidak mampu mengusir panasnya permainan kami, peluh kami sudah menyatu dalam kenikmatan nafsu birahi. Rio memelukku dan mencium mulutku sambil kembali mempermainkan lidahnya, kejantanannya masih keras bercokol di vaginaku, terasa panas sudah, atau mungkin lecet.
Tidak lama kemudian nafsuku bangkit lagi, kuatur posisi kakiku hingga aku dapat menaik-turunkan tubuhku supaya kejantanan Rio bisa sliding lagi. Meskipun kakiku terasa lemas, kupaksakan untuk men-sliding kejantanan Rio yang sepertinya makin lama makin mengeras. Melihatku sudah kecapean, Rio memintaku untuk masuk ke bathtub dan kuturuti keinginannya supaya aku kembali ke posisi doggie. Sebelum memasukkan kejantanannya, Rio membuka kran air hingga keluarlah air dingin dari shower di atas, kemudian dengan mudahnya dia melesakkan kejantanannya ke vaginaku untuk kesekian kalinya.
Bercinta di bawah guyuran air shower membuat tubuhku segar kembali, sepertinya dia dapat membaca kemauan lawan mainnya, kali ini kocokannya bervariasi antara cepat keras dan pelan. Tidak mau kalah, setelah terasa staminaku agak pulih, kuimbangi gerakan sodokan Rio dengan menggoyang-goyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan atau maju mundur melawan gerakan tubuh Rio. Dan benar saja, tidak lama kemudian kurasakan cengkeraman tangan Rio di pantatku mengencang, kurasakan kejantanan Rio terasa membesar dan diikuti semprotan dan denyutan yang begitu kuat dari kejantanan Rio.
Vaginaku terasa dihantam kuat oleh gelombang air bah, denyutan dan semprotan itu begitu kuat hingga aku terbawa melambung mencapai puncak kenikmatan yang ke sekian kalinya. Kami orgasme secara bersamaan akhirnya, tubuhku langsung terkulai di bathtub. Kucuran air kurasakan begitu sejuk menerpa tubuhku yang masih berpeluh. Rio mengambil sabun dan menyabuni punggungku serta seluruh tubuhku. Dengan gentle dia memperlakukan aku seperti layaknya seorang lady hingga aku selesai mandi.
Dengan hanya berbalut handuk aku keluar kamar mandi menuju ranjang untuk beristirahat. Kulihat Hendra sudah mengenakan piyama dan duduk di sofa memperhatikanku keluar dari kamar mandi. Expresi di wajah Hendra tidak dapat kutebak, tapi tiada terlihat sinar kemarahan atau cemburu melihat bagaimana aku bercinta dengan Rio di kamar mandi selama lebih dari satu jam. Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yang hangat, mataku sudah terlalu berat untuk terbuka, masih kudengar sayup-sayup pembicaraan Hendra sebelum aku terlelap dalam tidurku.
“Kamu hebat Rio, belum pernah ada yang membuat dia orgasme terlebih dahulu, bahkan setelah bermain dengan dua orang.” kata Hendra ketika Rio keluar dari kamar mandi.
“Ah biasa saja Om.” jawab Rio kalem merendah.
“Emang dia sering melayani 2 orang sekaligus..?” lanjut Rio.
“Ah bukan urusanmu anak muda, oke Rio, tugas kamu sudah selesai, uang kamu ada di sebelah TV dan kamu boleh pergi.” kata Hendra.
“Om, boleh saya usul..?”
“Silakan..!”
“Kalau saya boleh tinggal dan menemani lebih lama bahkan sampai pagi, biarlah nggak usah ada tambahan bayar overtime, aku jamin dia pasti lebih dari puas.” usul Rio.
“Cilaka..,” pikirku.
Aku tidak tahu apa yang dikatakan Hendra karena sudah terlelap dalam tidur indah.
Entah sudah berapa lama tertidur ketika kurasakan sesuati menggelitik vaginaku. Sambil membuka mata yang masih berat, kulihat kepala sudah terbenam di selangkanganku yang telah tebuka lebar. Ah, Rio mulai lagi, pikirku. Ketika aku menoleh ke sofa mencari Hendra, kulihat dia telanjang duduk di samping Rio yang juga telanjang sambil tersenyum ke arahku. Jadi siapa yang bermain di vaginaku saat ini, terkaget aku dibuatnya. Langsung duduk kutarik rambutnya dan ternyata si Andre, teman Rio yang kusuruh pulang bersama si pendek tadi.
Sebenarnya dia tidak terpilih bukan karena aku tidak tertarik, tapi aku harus memutuskan satu di antara dua yang baik.
“What the hell going on here..?” pikirku, tapi tidak sempat terucap karena permainan lidahnya sungguh menggetarkan naluri kewanitaanku.
Kubiarkan Andre bermain di selangkanganku dan kunikmati permainan lidahnya, meskipun tidak sepintar Rio, tapi masih membuatku menggelinjang-gelinjang kenikmatan.
“Ugh.., shh..!” aku mulai mendesis.
Kubenamkan kepala Andre lebih dalam untuk mendapatkan kenikmatan lebih jauh. Andre menjilatiku dengan hebatnya hingga beberapa saat sampai kulihat Rio berdiri dari tempatnya dan menghampiri Andre. Diangkatnya kakiku hingga terpentang dan Rio mengganjal pantatku dengan bantal hingga posisi vaginaku sekarang menantang ke atas.
Rio mengganti posisi Andre, menjilati vaginaku dengan mahirnya, kemudian mereka berganti posisi lagi. Cukup lama juga Rio dan Andre menjilati vaginaku secara simultan. Sensasinya sungguh luar biasa hingga aku larut dalam kenikmatan. Jilatan Andre sudah berpindah ke daerah anusku, ketika Rio menjilati pahaku terus naik dan berhenti untuk bermain di daerah vaginaku.
“Aahh.., gilaa.., aagh.., shit.. yess..!” aku terkaget, karena baru kali ini aku dijilati oleh dua laki-laki di daerah kewanitaanku.
Bayangkan dua lidah dengan satu di anus dan satunya di vagina. Keduanya begitu expert dalam permainan lidah. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan dengan kata-kata, sensasi ini terlalu berlebihan bagiku, bahkan terbayang pun tidak pernah.
Dengan penuh gairah mereka bermain di kedua lubangku, aku tidak tahu harus berkata apa selain mendesah dan menjerit dalam kenikmatan birahi. Aku mencari pegangan sebagai pelampiasan rasa histeriaku, tapi tidak kudapatkan hingga akhirnya kuremas-remas sendiri buah dadaku yang ikut menegang. Tidak tahan menahan sensasi yang berlebihan, akhirnya aku mencapai orgasme duluan. Orgasme tercepat selama hidupku, tidak sampai penetrasi dan tidak lebih dari 15 menit, suatu rekor yang tidak perlu dibanggakan.
Mulut Rio tidak pernah beranjak dari vaginaku, disedotnya vaginaku seperti layaknya vacum cleaner.
“Shit.. Rio.. stop.. stoop..! Please..!” pintaku menahan malu.
Lidah Rio naik menelusuri perutku dan berhenti di antara kedua bukit di dadaku, lalu mendaki hingga mencapai putingku. Dikulumnya lalu sambil meremas buah dadaku dia mulai mengulum dan mempermainkan putingnya dengan lidah mautnya.
Belum sempat kurasakan mautnya permainan lidah Rio, aku merasakan Andre telah menyapukan kejantanannya di bibir vaginaku sebentar dan langsung kejantanan Andre tanpa basa basi langsung melesak masuk ke vaginaku. Kurasakan ada perbedaan rasa dengan Rio karena bentuknya memang berbeda. Punya Rio besar dan melengkung ke kiri bawah, agak unik, sedangkan Andre kecil panjang melengkung lurus ke atas, jadi disini kurasakan dua rasa.
Gila, kalau tadi siang kurasakan punya Rio yang banyak menggesek bagian kananku, sekarang kurasakan bagian atas vagina menerima sensasi yang hebat, karena kejantanan Andre mempunyai kepala yang besar, menyodok-nyodok dinding vaginaku. Kedua kakiku dipentangkan dengan lebar oleh Andre, Rio bertambah gairan bergerilya menjelajahi kedua bukit dan menikmati kenyalnya bukit dan putingku yang makin menegang. Tangannya tidak henti meremas dan mengelus kedua bukit di dadaku, sesekali wajahnya dibenamkan di antara kedua bukitku seperti orang gemas.
Andre makin kencang mengocok vaginaku sambil menjilati jari-jari kakiku. Aku menggelinjang makin tidak karuan diperlakukan kedua anak muda ini. Kocokan dan remasan tanganku di kejantanan Rio makin keras mengimbangi permainan mereka.
“Uugghh.. sshh.. kalian.. me.., me..mang gilaa..!” teriakku.
Permainan mereka semakin ganas mengerjaiku.
Kutarik tubuh Rio ke atas, kini Rio sudah berlutut di samping kepalaku, kejantanannya yang tegang tepat ke arah wajahku. Segera kulahap kejantanannya, sekarang aku mau mengulumnya karena kejantanan itu terakhir kali masuk di vaginaku, tidak seperti saat pertama tadi, entah dengan siapa sebelum aku. Seperti dugaanku, mulutku ternyata tidak dapat mengulum masuk semua batang kejantanannya, terlalu besar untuk mulut mungilku.
Rio sekarang mengangkangiku, kepalaku di antara kedua kakinya, sementara kejantanannya kembali tertanam di mulutku. Dikocok-kocoknya mulutku dengan penis besarnya seolah berusaha menanamkan semuanya ke dalam, tapi tetap tidak bisa, it’s too big to my nice mouth, very hard blowjob. Kurasakan kenikmatan yang memuncak, dan kembali aku mengalami orgasme beberapa saat kemudian.
“Mmgghh.. mmgh.. uugh..!” teriakku tertahan karena terhalang kejantanan Rio, masih untung tidak tergigit saat aku orgasme.
Tanpa memberiku istirahat, mereka membalikkan tubuhku, kini aku tertumpu pada lutut dan tanganku, doggy style. Andre tetap bertugas di belakang sementara Rio duduk berselonjor di hadapanku. Seperti sebelumnya, Andre langsung tancap gas mengocokku dengan cepat, kurasakan kejantanannya makin dalam melesak ke dalam vaginaku, pinggangku dipegangnya dan gerakkan berlawanan dengan arah kocokannya, sehingga makin masuk ke dalam di vaginaku. Antara sakit dan nikmat sudah sulit dibedakan, dan aku tidak sempat berpikir lebih lama ketika Rio menyodorkan kejantanannya di mulutku kembali.
Kedua lubang tubuhku kini terisi dan kurasakan sensasi yang luar biasa. Dengan terus mengocok, Andre mengelus-elus punggungku, kemudian tangannya menjelajah ke dadaku, dielus dan diremasnya dengan keras keduanya sesekali mempermainkan putingku, kegelian dan kenikmatan bercampur menjadi satu. Tidak ketinggalan Rio memegang rambutku, didorongnya supaya kejantanannya dapat masuk lebih dalam di mulutku.
“Emmhh.., mhh..!” desahku sudah tidak keluar lagi, terlalu sibuk dengan kejantanan Rio di mulutku.
Kugoyang-goyangkan badanku, pantatku bergerak berlawanan gerakan Andre dan kepalaku turun naik dengan cepat mengocok Rio.
Tidak lama kemudian, “Shit.., aku mau keluar..!” teriak Rio sambil menarik kepalaku ke atas, tapi aku tidak perduli, malah kupercepat kocokan mulutku hingga menyemprotlah sperma Rio dengan deras ke mulutku, semprotannya cukup kencang hingga langsung masuk ke tenggorokanku.
Tanpa ragu lagi kutelan sperma yang ada di mulutku, Rio mengusap sisa sperma di bibir yang tidak tertampung di mulutku.
Kulihat senyum puas di wajah Rio, lalu dia bergeser ke samping, ternyata Hendra sudah berada di samping ranjang, dia kemudian mengganti posisi Rio berselonjor di hadapanku. Tanpa menunggu lebih lama lagi langsung kukulum kejantanan dia yang basah, kurasakan aroma sperma, sepertinya dia habis berejakulasi melihat permainan kami bertiga. Karena ukuran kejantanan Hendra tidak sebesar punya Rio, maka dengan mudah aku melahap semua hingga habis sampai ke pangkal batangnya, dan segera mengocok keluar masuk.
Andre mendorong tubuhku hingga telungkup di ranjang, entah bagaimana posisi dia dengan tubuhku telungkup, dia tetap mengocok vaginaku dengan ganasnya. Hendra hanya dapat mengelus rambutku dan mempermainkan buah dadaku dari bawah. Tidak lama kemudian Andre mencabut kejantanannya, dan langsung berbaring di sebelahku. Aku mengerti maksudnya, sebenarnya harusnya aku yang mengatur dia bukan sebaliknya, tapi toh kuturuti juga.
Kutinggalkan Hendra dan aku menaiki tubuh Andre, kejantanannya masih menegang ke atas, kuatur tubuhku hingga vaginaku pas dengan kejantanannya yang sudah menunggu, lalu kuturunkan pantatku dan bles. Langsung saja aku bergoyang salsa di atasnya. Kini aku pegang kendali, pantatku kuputar-putar sehingga vaginaku terasa diaduk-aduk olehnya. Andre memegangi kedua buah dadaku dan meremasnya. Hendra berdiri di atas ranjang dan menghampiriku, dia menyodorkan kembali kejantanannya, kubalas dengan jilatan dan kuluman.
Ternyata Rio yang sudah recovery tidak mau ketinggalan, dia berdiri di sisi lainnya dan menyodorkan kejantanannya ke arahku. Kini tanganku memegang dua penis yang berbeda, baik dari ukuran, bentuk dan kekerasannya, belum lagi yang tertanam di vaginaku, aku sedang menikmati tiga macam penis sekarang. Kupermainkan Rio dan Hendra secara bergantian di mulutku antara kuluman dan kocokan tangan. Pantatku tidak pernah berhenti bergoyang di atas Andre, sungguh suatu sensasi dan kenikmatan yang sangat berlebihan dan rasanya tidak semua orang dapat menikmatinya.
Beruntungkah aku..? Entahlah, yang jelas sekarang aku sedang melambung dalam lautan kenikmatan birahi tertinggi. Entah sudah berapa banyak cairan vaginaku terkuras keluar. Andre belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan orgasme. Aku mengganti gerakanku, kini turun naik sliding di atasnya, kulepas tangan kiriku dari penis Rio dan kuelus kantong pelir Andre untuk menambah rangsangan padanya. Ternyata Andre melawan gerakanku dengan menaik-turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga kejantanannya makin menancap dalam, tangannya tidak pernah melepas remasannya dari buah dadaku.
Rio bergerak ke belakangku, dielusnya punggungku dan elusannya berhenti di lubang anusku. Dengan ludahnya dia mengolesi lubang itu dan mencoba memasukkan jarinya ke dalam, sesaat terlintas di benakku bahwa dia mau anal, berarti double penetration. Aku belum siap untuk itu, tidak seorang pun kecuali suamiku yang mendapatkan anal dariku. Kuangkat tangannya dari anusku, pertanda penolakan dan dia mengerti. Rio berlutut di belakangku, didekapnya tubuhku dari belakang dan tangannya ikut meremas-remas buah dadaku. Sambil menciumi tengkuk dan telingaku, kejantanannya menempel hangat di pantatku, kini dua pasang tangan di kedua buah dadaku.
Karena didekap dari belakang aku tidak dapat bergerak dengan leluasa, akibatnya Andre lebih bebas mengocok vaginaku dari bawah. Aku sudah tidak dapat mengontrol tubuhku lagi, entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, padahal masih dengan Andre. Ada dua lagi penis menunggu giliran menikmati vaginaku, Rio dan Hendra, suamiku.
Tidak lama setelah mengocokku dari bawah, kurasakan badan Andre yang menegang kemudian disusul denyutan keras di vaginaku. Begitu keras dan deras semprotan spermanya hingga aku tersentak kaget menerima sensasi itu hingga aku menyusul orgasme sesaat setelahnya. Begitu nikmat dan nikmat, untung aku sempat mengeluarkan kejantanan Hendra dari mulutku sesaat setelah kurasakan semburan Andre, kalau tidak hampir pasti dia akan tergigit saat aku mengikuti orgasme. Tubuhku langsung melemas, aku langsung terkulai di atas tubuh Andre. Rio sudah melepas dekapannya dan Hendra duduk di samping Andre, sepertinya mereka menunggu giliran.
Napasku sudah ngos-ngosan, aku dapat merasakan degup jantung Andre yang masih kencang, keringat kami sudah bercampur menjadi satu. Kejantanan Andre masih tertanam di vaginaku meskipun sudah melemas hingga akhirnya keluar dengan sendirinya. Rio menawariku lippovitan, penambah energi. Setelah aku berbaring di samping Andre, berarti dia sudah bersiap untuk bertempur denganku, segera kuhabiskan minuman itu, kesegaran memasuki di tubuhku tidak lama kemudian.
“Gila kamu Ndre, ternyata tak kalah dengan Rio.” komentarku.
“Ah biasa Mbak, kita udah biasa kerjasama kok.” jawabnya.
“Makanya kompak kan Mbak, dan Mbak termasuk hebat bisa melayani kami sendiri-sendiri dalam satu hari, dan barusan adalah satu jam 17 menit.” Rio menimpali.
“Biasanya kami langsung main bertiga, dan itu tidak lebih lama daripada sendiri-sendiri, paling lama setengah jam sudah KO.” kembali Andre menambahi.
Aku ke kamar mandi supaya badan segar, kuguyurkan air hangat di sekujur tubuhku, kusiram rambutku yang tidak karuan bercampur bau sperma. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam ketika aku keluar dari kamar mandi. Kulihat mereka duduk di sofa, Rio dan Andre di sofa panjang sementara Hendra di sofa satunya, masih bertelanjang. Ketika aku datang hanya berbalut handuk, ranjang sudah dirapikan, entah apa rencana mereka, pikirku. Persetan yang penting aku dapat menikmati dan kuikuti permainannya.
Rupanya aku terlalu lama dan asyik mandi hingga tidak tahu kalau makanan datang dan sudah tersaji di meja. Aku merasa lapar, maklum habis selesai dengan Rio disambung sama Andre dan aku belum makan sejak tadi siang. Aku duduk di antara Rio dan Andre, yang kemudian disambut tarikan handuk pembalut tubuhku oleh Rio hingga terlepas. Keduanya langsung mencium pipiku kiri kanan dan kusambut remasan di kejantanan mereka yang agak menegang.
“Makan dulu yuk..!” ajakku langsung ke meja.
Kami berempat bertelanjang makan bersama sambil bercerita pengalaman mereka. Aku tidak berani makan terlalu banyak, takut kalau terlalu banyak bergoyang jadi sakit perut, yang penting tidak lapar dan dapat menambah energi nanti, sepertinya mereka melakukan hal yang sama.
Setelah istirahat selesai makan, kembali aku duduk di antara dua anak muda itu. Kali ini mereka langsung mencium leherku di kiri dan kanan sambil meremas-remas dadaku masing-masing satu. Hendra berdiri ke arah kami, dia meminta Rio berpindah tempat, dan dia langsung melakukan hal yang sama, menciumi leherku dan terus turun ke dada, sekarang Andre dan Hendra mengulum putingku di kiri dan kanan.
Rio tidak mau jadi penonton, dia langsung bejongkok di antara kakiku, melebarkannya dan lidahnya mulai menjelajah di vaginaku. Mungkin dia masih mencium aroma sperma Andre karena memang tidak kubersihkan, tapi dia tidak perduli, jilatan demi jilatan menjelajah di vaginaku, dipermainkannya vaginaku dengan lidah dan jari tangannya. Kenikmatan mulai kurasakan, foreplay dengan 3 orang sekaligus, akan mempercepat perjalanan menuju puncak kenikmatan birahi.
Dengan kemahiran permainan lidah Rio, aku sudah terbakar birahi, kepalanya kujepit dengan kedua kakiku supaya lebih merapat di selangkanganku. Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi, layu sebelum birahi.
“Sshh.., Rio masukin Sayang.., sekarang..!” pintaku di sela kuluman Andre dan Hendra di dadaku.
Tanpa menunggu kedua kalinya, Rio segera bangkit dan menyapukan kepala kejantanannya ke vaginaku, ternyata Andre mengikuti Rio, dia stand by di sampingnya sambil mementangkan kakiku lebar. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Rio langsung mengocokku cepat dan keras, aku langsung menggeliat kaget, tapi segera mulutku dibungkam dengan ciuman bibir oleh Hendra. Andre sambil memegangi kakiku, dia menjilati kedua jari kakiku secara bergantian. Aku ingin menjerit dalam kenikmatan tapi tidak dapat karena lidah Hendra masih menikmati bibirku.
Kocokan Rio bertambah cepat, iramanya susah ditebak karena terlalu banyak improvisasi, aku kewalahan mengikuti iramanya, disamping memang dia expert mempermainkan iramanya, dilain sisi aku juga sibuk menghadapi dua orang lainnya. Hendra minta aku mengulum kejantanannya, maka kusingkirkan Rio dari vaginaku, aku langsung jongkok di depan dia yang duduk di sofa, langsung mengulum penisnya yang sudah tegang.
Rio tidak mau menunggu lebih lama, dengan doggy style dia mulai memasuki vaginaku. Sodokan awal perlahan, tapi selanjutnya makin keras dan cepat. Andre, aku tidak tahu dimana posisi dia, tapi yang kutahu dia stand by di samping Rio. Kugoyang-goyangkan pantatku mengikuti irama Rio, makin lama makin terasa nikmatnya, cukup lama dia mengocokku dengan berbagai variasi gerakan hingga ketika puncak kenikmatan hampir kurengkuh, tiba tiba dia mencabut kejantanannya. Aku mau protes, tapi ketika kutengok ke belakang ternyata Andre sudah bersiap menggantikan posisi Rio, dan sekali dorong tanpa menunggu reaksiku amblaslah kejantanannya ke vaginaku.
Sekali lagi kurasakan perbedaan sensasi dari keduanya. Entahlah aku tidak dapat menentukan mana yang lebih nikmat. Andre langsung menggoyang sambil mengocokku dengan iramanya sendiri. Saat Andre sedang memacuku dengan cepat, tiba-tiba Hendra menyemprotkan spermanya di mulutku, terkaget juga aku, karena terkonsentrasi pada kocokan Andre hingga kurang memperhatikan ke Hendra. Kujilati sisa sperma di kejantanan dia yang tidak terlalu banyak.
Ternyata Rio sudah mengganti posisi Andre, kemudian mereka berganti lagi begitu seterusnya entah sudah berapa kali berganti menggilirku hingga aku sudah tidak dapat membedakan lagi apakah yang mengocok vaginaku Andre atau Rio, keduanya sama-sama nikmat. Mereka tidak memperdulikan sudah berapa kali puncak birahi sudah kurengkuh. Selama aku belum bilang stop, mereka akan terus memacuku ke puncak kenikmatan.
Entah sudah berapa lama dengan doggy style, lututku terasa capek. Aku merangkak naik ke sofa yang ditinggal Hendra, tetap dengan posisi doggy sofa mereka tidak memberiku kesempatan bernapas. Melayani satu Andre atau Rio saja aku sudah kewalahan, apalagi menghadapi mereka berdua secara bersamaan, dan mereka begitu kompak melayani birahiku. Berulang kali mereka mencoba memasukkan kejantanannya ke lubang anus, tapi selalu kutolak dan kutuntun kejantanannya kembali ke vaginaku.
Kunikmati sodokan demi sodokan dari belakang entah dari Rio atau Andre hingga tiba-tiba kurasakan perbedaan yang drastis, begitu kecil dan rasanya seperti hanya masuk separoh saja kocokannya. Aku menoleh kebelakang, ternyata Hendra ikut bergiliran dengan mereka. Ternyata mereka melakukan permainan. Ketika Hendra sedang mengocokku, Rio dan Andre mengundi siapa berikutnya, begitu juga ketika Rio menyodokku, Hendra dan Andre mengundi berikutnya, begitu seterusnya. Aku berharap supaya Hendra tidak pernah menang.
Waktu giliran ternyata ditentukan tidak lebih dari 3 menit untuk orang berikutnya, yang orgasme duluan harus merelakan diri jadi penonton. Entah sudah berapa lama berlangsung, lututku sudah lemas, tapi serangan dari belakang tidak menurun juga, aku heran juga ternyata Hendra dapat sedikit mengimbangi permainan Rio dan Andre. Dan benar dugaanku, tidak lama kemudian ketika si penis kecil sedang mengocokku, kurasakan denyutan-denyutan di dinding vaginaku dan kudengar teriakan Hendra pertanda dia orgasme. Kemudian kembali vaginaku berganti penghuni secara bergantian.
Mereka melakukannya dengan kompak, banyak lagi variasi yang dilakukan mereka kepadaku, baik di ranjang, di meja makan, sambil berdiri menghadap dinding, mereka lebih suka melakukan secara simultan. Ketika aku hampir menghentikan permainan, mereka memberi tanda supaya aku berjongkok di antara mereka dan dengan sedikit bantuan kuluman dan kocokan pada kejantanan mereka secara bergantian, akhirnya menyemprotlah sperma mereka secara hampir bersamaan. Semua memuncrat ke wajah, sebagaian masuk mulut hingga ke tubuhku. Aku sangat menikmati ketika semprotan demi semprotan menerpa wajah dan tubuhku, terasa begitu erotic.
Kami semua rebah di ranjang, jarum jam menunjukkan 01,30 dini hari, berarti sekitar dua jam bercinta dengan tiga orang sekaligus, sungguh permainan yang indah dan jauh memuaskan. Satu persatu tertidur kelelahan masih dalam keadaan telanjang.
Tidak lama mataku terpejam ketika kurasakan ciuman di mulutku, Andre yang sudah menindihku berbisik, “Boleh nggak aku minta lagi.” bisiknya pelan di telingaku.
Tanpa menjawab, kubuka kakiku dan dengan mudahnya dia memasukkan kejantanannya ke dalam. Dengan goyangan perlahan seperti menikmati, ternyata tidak lama dia sudah orgasme, ternyata bisa juga dia orgasme dengan cepat, mungkin 15 menit. Kemudian kami kembali tertidur.
Tidak lama kemudian kejadian tadi terulang lagi, kali ini dengan Rio. Dengan cepat pula dia menuntaskan hasratnya. Ketika kami semua terbangun pukul 10 pagi, rasanya aku belum lama tidur, Kulihat Hendra sudah memakai pakaian, sementara Rio dan Andre masih telanjang berbincang dengan Hendra.
“Pagi Sayang, bagaimana mimpi indahmu..?” tanyanya.
“Terlalu indah untuk sebuah mimpi.” jawabku yang langsung ke kamar mandi untuk berendam menghilangkan lelah.
Tidak lama kemudian ketika sedang asyik berendam, muncullah Rio dan Andre di pintu kamar mandi yang memang tidak kukunci.
“Mau ditemenin mandi Mbak..?” tanya Andre.
“Pasti asyik kalau mandi bertiga.” sambung Rio.
Dan akhirnya sudah dapat diduga, kembali kami melakukan permainan sex bertiga, tapi kali ini dilakukan di kamar mandi, ternyata sensasinya berbeda dari tadi malam. Banyak juga aku belajar variasi baru. Bertiga di kamar mandi, baik itu di bathtub, shower ataupun di meja westafel kamar mandi, sungguh pengalaman yang luar biasa. Cukup lama juga kami bercinta di kamar mandi hingga akhirnya Hendra mengingatkan kami waktu check out.
Pukul 12 siang kami sudah bersiap untuk check out. Ketika Rio dan Andre sedang berpakaian, ternyata Hendra memintaku sekali lagi untuk ‘quicky’. Dengan membuka pakaian seperlunya, kami kembali bercinta disaksikan kedua gigolo itu. Namanya saja quicky, maka tidak sampai sepuluh menit dia sudah menyemprotkan spermanya di vaginaku, dan segera memasukkan kembali kejantanannya di balik celananya dan tanpa membersihkan lebih lanjut. Aku menngenakan kembali celanaku yang merosot tadi, dan kami check out hotel secara bersama-sama, tidak lupa setelah menukar nomer HP masing-masing dengan kenangan yang indah.
Sejak saat itu aku sering meminta Rio ataupun Andre atau mereka berdua untuk menemaniku kalau aku lagi perlu penyegaran. Soal ‘bisnis’ dengan mereka sepertinya sudah tidak menjadi point utama lagi. Dan belakangan aku tahu kalau Rio juga penggemar media ini, salam sayang untuk Rio apabila kamu membaca cerita ini (nama sudah disamarkan sehingga yang bersangkutan saja yang tahu). Maaf aku tidak minta ijin dulu, tapi kukira kamu tidak keberatan kan Sayang. Salamku untuk Andre juga.
TAMAT
READ MORE » Bercinta dengan Gigolo

At The Party

teleponku di kantor berdering, operator memberitahu bahwa ada seorang wanita bernama Vivi ingin bicara denganku. Lantas aku minta disambungkan.
“Vir, Dino akan merayakan ulang tahun di villanya di Puncak hari Jumat lusa, loe dan Della musti dateng” kata Vivi meneleponku siang itu.
“Siapa aja yang diundang, banyak nggak, loe tunggu ya jangan diputus, gua telepon Della, kita ngomong bertiga” tanyaku. Aku hold Vivi dan kusambung Della dan kutekan tombol “conf” di pesawat telepon kantorku.
“Del, Dino ultah di villanya di puncak Jumat lusa, lu mau dateng nggak” kataku pada Della.
“Del, lu musti dateng, biar rame” kata Vivi menyela.
“Emangnya lu pikir gua srimulat, berani bayar gua berapa biar rame? Ehh.. Banyak cowoknya nggak?”
“Lu kan dateng sama Virano, masih mau cari cowok lagi, yang dateng paling banyak 20, cowoknya mungkin imbang, ceweknya yang lu kenal cuma gua doang” kata Vivi, aku hanya mendengarkan.
“Cari yang baru boleh dong.., Ya Vir.., berangkat jam berapa” Jawab Della menunjukkan bahwa sudah confirm.
“Gua nggak tahu villanya Dino” ujarku memancing.
“Gua mau ikut kalian, soalnya Dino berangkat pagi, beres-beres, gua baru landing jam 12, gimana kalau berangkat jam 5 sore?” tanya Vivi yang seorang pramugari.
“Kalau gitu ngumpul di apartemen gua aja, gua udah di sana jam 2″ kataku.
“Ok deh, sampai Jumat ya” kata Della.
“Aparteman lu dimana?” tanya Vivi.
Jumat jam 2 aku sudah nongkrong di S (istilah apartemenku), sempat aku istirahat tidur-tiduran. Tiba tiba jam 2:30 bel berbunyi, lalu aku tekan tombol intercom dengan lobby, di layar terlihat Vivi sedang membawa travel bag. Aku tekan tombol open dan meminta Vivi naik ke lantai 17, kubuka pintu dan menunggu di depan lift. Tak lama Vivi keluar dari lift. Kubawa tasnya sambil kupersilakan Vivi masuk ke dalam. Masih dengan seragam pramugarinya, Vivi terlihat cantik dan anggun.
“Della belum datang? Mana dia?” tanya Vivi.
“Belum, lu telepon aja dia ke rumahnya” jawabku.
Kemudian Vivi menghubungi Della dan aku menyalakan komputerku untuk memeriksa pekerjaanku, sesaat kemudian..
“Della baru bisa berangkat jam setengah lima, katanya gua latihan aja dulu sama lu” kata Vivi sambil tertawa setelah menutup telepon dengan Della.
“Latihan apa? Wah.. Baru sampai sini jam enam dong, jalan kan macet jam segitu. Kalau gitu lu santai aja deh, gua periksa ini sebentar” jawabku sambil meneruskan pekerjaanku dengan komputer.
Setengah jam kemudian..
“Vir, di bawah ada gym kan, mau ke sana nggak, cari keringat sambil tunggu Della” kata Vivi.
“Boleh, bawa baju renang nggak, berenang aja sekalian” jawabku.
Vivi, 28, 168/55/36C, memperlihatkan bentuk body yang sempurna, maklum sebagai seorang pramugari, Vivi harus menjaga penampilannya sebaik mungkin. Vivi masuk kamarku untuk berganti pakaian, lalu giliran aku. Kukenakan celana pendek stretch ketat tipis mirip yang biasa dipakai oleh pesenam, sehingga memperlihatkan tonjolan penisku dan kaus lengan buntung, lalu kukenakan celana pendek dan kemeja santai. Kubawa pula celana renang miniku.
Setiba di gym ada sekitar 4 pria dan 2 wanita sedang berolahraga pula. Kulepaskan kemeja dan celana pendekku dan mulai dengan tread mill bersebelahan dengan Vivi yang telah melepaskan jacket dan celana panjangnya. Dengan atasan tipis ketat tanpa lengan hanya sebatas dada dan belahan paha, celana senamnya naik ke atas pinggul model bikini, Vivi kelihatan sangat merangsang membuat darah di sekitar selangkanganku berdesir dan sedikit memasuki jaringan otot penisku yang mengakibatkan tonjolan penisku agak membesar. Vivi melirik ke arah penisku seakan ingin mengetahui sampai di mana ‘tingkat keberhasilannya’.
Saat treadmill sampai pada kecepatan cukup untuk lari di tempat, kulirik ke sebelahku. Vivi sedang berlari juga, terlihat buah dadanya berguncang naik turun mengikuti langkah larinya, penisku makin terisi, semakin terlihat menonjol, Vivi beberapa kali melirik penisku, kulirik kembali buah dadanya, sekarang terlihat tonjolan puting Vivi yang mengeras kaku tertekan pakaian senam yang ketat.
“Jadi siapa yang terangsang oleh siapa ya?” kataku pelan.
“tahu ah, gelap” kata Vivi sambil memperlambat tread millnya lalu berhenti.
Kami meneruskan dengan latihan untuk membentuk otot-otot tubuh, ada sekitar 1 jam total kami di sana sambil mengobrol kesana kemari. Tempat itu telah sepi, lalu aku ajak Vivi untuk sauna. Sebenarnya sauna untuk wanita dan lelaki terpisah, tapi karena tidak ada orang, aku ajak Vivi untuk sauna bersama-sama. Kuambil 2 handuk dan masuk ke dalam. Kulepaskan seluruh pakaian sampai telanjang bulat, lalu duduk di bangku dan handuk kuletakkan di paha. Melihatku begitu, Vivi juga melepaskan seluruh pakaiannya dan duduk menyamping di sebelahku dengan handuk di paha sehingga buah dadanya yang berukuran 36C terlihat dengan jelas, apalagi setelah 12 menit, saat keringat mengucur membasahi tubuhnya sehingga terlihat semakin sexy. Tiba tiba Vivi menarik handukku.
“Curang, lu bisa liat dada gua, gua nggak bisa liat lu punya.. Kok kontol lu belum ngaceng sih?” kata Vivi sambil melihat ke bawah.
“Emang lu pikir gua ABG, liat cewe bugil jadi ngaceng, kalo gua ngaceng juga nggak bakal full” jawabku santai.
“Kalo mau liat kontol gua ngaceng, musti ada aktifitas, jangan bengong aja” lanjutku.
Vivi turun mendatangiku, tangannya meraih penisku dan mulai meremas dan mengelus ujung kepalanya, rasanya ngilu. Kepalanya mulai ditundukkan dan menyambar penisku masuk ke mulutnya. Seketika penisku mengeras dan membesar sempurna. Vivi agak terkejut dan membuka mulutnya selebar mungkin agar penisku dapat tetap berada di dalam mulutnya. Aku tarik penisku, dan aku bawa Vivi menghadap dinding dengan tangan memegang bangku sauna tersebut. Vivi mengerti mauku.
Langsung aku masukkan penisku ke dalam vagina Vivi, lancar tanpa halangan berarti karena baik penisku maupun vagina Vivi sudah kebanjiran keringat. Kukocok sedikit hingga Vivi mengerang, kudorong dan kuhentakan dalam-dalam, Vivi terhenyak dan mengerang keenakan, beberapa saat kemudian aku rasakan Vivi hampir orgasme, lalu aku cabut penisku.
“Viir.. Jangan dicabut doong.. Gua ampiir keluar niih..” teriak Vivi.
“Dilarang orgasme di dalam sauna, nanti menyerang jantung” kataku.
“Jahat lu ya.. Emangnya lu bisa nahan..” katanya cemberut.
“Kita terusin di jacuzzi atau di kolam saja yuk” kataku keluar dan Vivi mengikutiku keluar dengan telanjang bulat juga karena masih sepi.
Pada dasarnya memang aku paling senang membuat wanita penasaran dengan cara membuat mereka tergantung dalam perjalanan menuju orgasme. Dapat terlihat ekspresi wajah sensual dan merangsang bagi siapa pun yang melihatnya. Ini adalah saranku untuk para juru foto bila ingin mendapat wajah sensual dan merangsang yang natural, buatlah mereka seperti yang baru aku lakukan pada Vivi, pasti akan didapat ekspresi wajah tidak dibuat-buat, malahan mereka dapat menjadi liar, seliar-liarnya.
Akhirnya kami memilih jacuzzi di luar namun agak memojok, sehingga agak sulit untuk orang yang tidak khusus ke tempat jacuzzi untuk melihat kami. Aku pakai celana boxer longgar dan Vivi memakai bikininya yang sangat mini, bawah model G-String dan atas hanya ada 7 cm kain yang menutupi buah dadanya sehingga dari depan atau pun dari samping buah dadanya terlihat jelas, demikian juga putingnya.
Di dalam jacuzzi kami duduk berdampingan, dan tak berapa lama, Vivi sudah memasukkan tangannya ke dalam celana boxerku. Penisku sudah menegang, lalu Vivi berbalik menghadap dan mendorong aku ke pinggir serta memerosotkan boxerku, tak lama Vivi menundukkan kepalanya dan masuk ke dalam air, terasa mulutnya mengulum penisku sambil menjilati ujung kepalanya. Rasanya enak juga penisku dihisap di dalam air, lalu kepala Vivi naik untuk mengambil nafas. Beberapa kali dilakukannya dan aku naik ke pinggiran sehingga Vivi bisa lebih leluasa.
“Hhmm.. Kontol.. Kontol.. Untung bener Della ya.. Hhmm..” katanya lalu didorongnya mulutnya kembali.
Penisku kembali memasuki mulutnya. Kupegang kepalanya serta kuberi tekanan sedikit agar dia memasukkan penisku dalam-dalam. Vivi mendorong ke bawah kepalanya mencoba memasukkan penisku, terasa ujung penisku sudah mengenai ujung dalam mulutnya hingga Vivi agak tersedak. Beberapa kali dicoba tapi masih tiga perempatnya yang bisa masuk. Akhirnya Vivi menyerah.
Kuangkat Vivi, kunaikkan badannya tengkurap di pinggiran lantai jacuzzi sehingga kakinya ada di air. Dengan posisi begini, aku berdiri di belakangnya, kugeser bikini pada bagian vaginanya dan mulai membelah vaginanya dengan lidahku dan mengaduk aduk vagina Vivi, tak lupa kadang-kadang lidahku mampir di anusnya yang merupakan kegemaranku. Vivi mendesah-desah, tidak berani berteriak karena takut kedengaran orang.
Lalu dia turun membelakangiku di tangga untuk masuk ke jacuzzi, segera kumasukkan penisku ke dalam vaginanya dan kukocok keluar masuk dengan keras dan menghentak. Aku ingin segera menyelesaikan permainan ini karena takut ada yang lewat. Kuhentakkan sedalam-dalamnya dengan keras, Vivi terhenyak setiap kali aku hentakkan penisku ke dalam vaginanya. Vivi mendesah-desah menahan teriakannya dan kira kira 5 menit kemudian..
“Viir.. Terus viir.. Ooch.. Gua keluar viirr..” desahnya.
Pantatnya terus digoyang merasakan orgasmenya, dan akhirnya kurasakan aku juga akan orgasme, penisku semakin mengeras dan berkedut. Tiba tiba Vivi berbalik, tangannya secepat kilat memegang saluran spermaku di bawah zakar dan menekan keras-keras, mulutnya langsung mengulum dan menjilati ujung penisku. Penisku berkedut-kedut pertanda orgasme, tapi tidak ada sperma yang keluar. Vivi berkonsentrasi menekannya sekitar 2 menit sampai penisku agak mengecil baru dilepaskannya.
“Spermanya disimpan dulu buat nanti” katanya. Hmm, kelas tersendiri buat Vivi pikirku.
Tak terasa mulai gelap, sudah Jam 6. Kami terburu-buru keluar, aku pakai boxerku yang basah saja, Vivi memakai bikininya, langsung masuk ke dalam lift yang berada dekat dengan gym itu. Resepsionis gym sampai bingung melihat kami, terutama Vivi yang 90% bugil. Kami naik ke atas dan masuk ke apartemenku, ternyata Della sudah ada di dalam. Della mempunyai 1 kartu akses lift dan kunci pintu apartemenku, karena sejak saat di cerita “Della Yang (Ternyata) Liar”, sering sekali kami berdua berada di apartemen itu mereguk kenikmatan dan mengumbar hawa nafsu birahi sexual kami, sehingga dengan mempunyai kunci sendiri akan memudahkan bagi Della untuk masuk.
“Gile lu ya, jadi satu ronde sudah selesai? Bagus nih bikininya” kata Della sambil meraba bikini Vivi yang merupakan alasan saja karena Della langsung meremas buah dada Vivi.
“Dell, gila lu ya, toket gua lu remas-remas, maunya Virano dong yang remas-remas” kata Vivi.
“Emang tadi belum?, ngapain aja tadi di bawah” tanya Della.
“Toketnya belum gua remas, baru vaginanya doang gua jilatin sama ngerasain kontol gua” kataku santai. Vivi membelalakkan matanya padaku.
“Anus lu ngerasain lidahnya nggak Vi..” tanya Della dengan santainya pada Vivi. Vivi tidak berani menjawab.
“Dikitlah cuma lewat” jawabku.
“Itu yang musti lu rasain Vi, justru di situ keahlian dia” kata Della menekankan.
“Udah.. Udah.. Ah, pusing gua liat lu berdua, mau berangkat nggak nih, mana lapar lagi” kata Vivi.
“Bukannya lu udah kenyang tadi di bawah?” tanya Della sambil tertawa.
“Bawah gua yang udah kenyang he he.. Tapi Virano punya masih lapar” kata Vivi mulai berani menimpali.
Akhirnya kami berangkat bertiga, memakai BMW Della, aku duduk di belakang sendirian. Della nyetir dan Vivi di sebelahnya. Kami tiba di Villa Dino yang tampak besar kira kira jam delapan dan sudah berkumpul sekitar 9 orang. Ada Dino, Alvin, Tito, Olan, Steve dan Henky. Wanitanya Maya, Ike dan Ira. Jadi dengan kami ada 12 orang, 7 pria, 5 wanita. Beberapa di antaranya pernah bertemu tapi tidak terlalu saling kenal.
Aku dan Della menempati kamar di lantai 2 di sebelah kamar Dino dan Vivi, ketiga wanita lain menempati 1 kamar di lantai 2 dan sisa cowok menempati 2 kamar di bawah. Kamarku tidak terlalu besar, berpenghangat ruangan, ada kamar mandi di dalam lengkap dengan air panas.
Setelah menurunkan barang dan istirahat sebentar, aku keluar dengan pakaian santai, demikian pula dengan yang lainnya. Makanan sudah disediakan dan kami makan bersama. Jam 11 Vivi mempersilakan kami semua untuk menuju ruang musik, suatu ruangan berukuran 8×8, lengkap dengan berbagai sound system, sebuah layar putih di atas perangkat sound system dengan proyektor tergantung di tengah ruangan yang kedap suara, sebuah bar di pojok ruangan penuh dengan berbagai botol minuman keras dan wine.
Kami mulai menyetel lagu-lagu karaoke yang disorotkan pada layar putih itu, minuman keras pun masuk ke dalam perut kami sambil bercanda tawa bersama-sama. Tampak 5 pria yang tanpa pasangan berebutan menarik perhatian para wanita, tak ketinggalan Della pun digodanya. Della tak kalah hot, disambutnya godaan pada pria tersebut dengan balik menggodanya, badannya diliuk-liukan di badan cowok demi cowok yang digilirnya, kadang-kadang dielusnya penis para cowok itu.
Mendekati jam 12, aku berbisik pada Della yang sudah typsy..
“Dell, striptease buat Dino ya?” ujarku.
“Gua ganti baju dulu ya” bisiknya.
Lalu Della mengajak Vivi keluar ruangan dan kembali beberapa saat kemudian, mengenakan rok mini lebar hanya sampai selangkangan dan potongan pinggul, jadi rok tersebut hanya sekitar 13 cm. Atasannya memakai jacket dari bahan kaus dengan ritz dari atas sampai perut. Apa pun yang dilakukan Della, berdiri atau pun duduk, bulatan pantat bagian bawahnya jelas terlihat yang dibalut G-String tipisnya. Sedangkan Vivi masih dengan pakaian yang tadi.
Vivi meredupkan lampu ruangan, mematikan video tapi proyektor dibiarkan menyala sehingga lampu warna biru menyorot pada layar, mengganti lagu dengan house musik, dan Della mulai bangkit dari sofa sambil menari-nari di tempat, meliuk-liukkan tubuhnya membuat gerakan-gerakan erotis sambil mendekati Dino.
“Gua mau striptease buat hadiah ulang tahun lu, sekalian memenuhi janji gua waktu itu” kata Della. Dino tidak menjawab, malah bengong.
Della maju dan berada di depan layar sehingga lampu proyektor menyinari tubuhnya. Para pria bengong semua, menghentikan kegiatan dan duduk menonton sedangkan para wanita juga menutup mulutnya tidak menyangka kalau Della akan seberani itu. Tapi itu belum seberapa. Della membuka ritz jacketnya perlahan-lahan dan dengan gerakan yang sangat erotis dibukanya jacket itu hingga serta merta terlihatlah apa yang dipakai Della di badannya. Selembar kain sangat tipis transparan yang menyilang dari kedua bahunya menggantung di buah dada, membelit dan terikat di punggung. Tampak jelas bentuk buah dada dengan putingnya yang menonjol.
Tangannya dengan berat merayap dan meremas-remas buah dadanya, lalu diturunkan menjalar ke arah roknya. Dengan satu jentikan, roknya terlepas ke lantai, tinggal menyisakan G-Stringnya. Aku bangkit mengambil setengah segelas XO murni dan memberikan ke Della, diambilnya minuman dari tanganku sambil tangan satunya lagi meremas penisku. Diminumnya setengah gelas sekaligus dan sebagian meleleh dari bibir menyiram dadanya hingga menyebabkan dengan kain tipis yang basah begitu, buah dadanya tercetak dengan jelas.
Aku peluk dan cium Della dan aku buka ikatan kain di punggungnya dan kutarik hingga lepas buah dada Della yang kini tanpa penutup dan terlihat bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya. Della berusaha membuka celanaku, tapi aku keburu mundur kembali ke sofa. Della sudah terbakar oleh minuman dan nafsu birahi yang timbul dari dalam dirinya dan aku tahu persis bahwa harus ada lelaki yang menjadi sasarannya, yaitu Dino.
Della meneruskan tariannya dan menarik tepi pengikat G-Stringnya yang berbentuk pita di samping pinggulnya, Della sudah telanjang bulat. Pinggulnya diputar-putar mirip gerakan bersetubuh. Lalu didekatinya Dino.
“Itu hadiah ulang tahun buat Lu, mau bonus?” kata Della.
Tanpa menunggu jawaban Dino, Della berjongkok di hadapan Dino yang sedang meremas-remas Vivi di sebelahnya. Vivi tahu maksud Della, lalu Vivi membantu Della membuka celana Dino dan langsung terlihat penis Dino yang sudah tegang.
Di sisi lain, rupanya para wanita yang semula malu-malu mulai terbakar pula, mereka sedang berpelukan dan berciuman dengan para lelaki, bahkan Maya dengan Olan dan Tito sekaligus sedangkan Ira dijepit oleh oleh Alvin dan Hengky. Di pojok terlihat Ike dekat dengan Steve, tapi tampaknya mereka masih ingin melihat yang akan diperbuat Della selanjutnya.
Della telah mengulum penis Dino, tidak besar, tidak ada kesulitan buat Della untuk memasukkan seluruhnya ke dalam mulutnya, kaki Dino mulai diangkat dan Della mulai menjilati dan menusuk-nusuk anus Dino dengan lidahnya sedangkan Vivi sesekali menjilat penis Dino yang sering dicegah oleh Della karena saat itu merupakan bagiannya, kata Della.
Della memanjat tubuh Dino dan duduk di pangkuannya tapi penis Dino tidak dimasukkan ke dalam vaginanya, melainkan terjepit di antara perut Della dan Dino, tangannya memeluk leher Dino dan bibirnya menjelajahi seluruh wajah Dino, diciumnya bibir Dino dengan panasnya, turun ke leher dan dijilatinya bagian-bagian sensitif dari leher Dino. Pinggulnya yang tetap digoyang-goyangkan membuat gerakan persetubuhan dalam posisi duduk membuat semua orang di dalam ruangan itu terbakar nafsunya
Penisku pun sudah tegang rasanya. Kuraih Vivi ke pelukanku dari belakang yang lalu menyandarkan punggungnya ke dadaku. Kucium bawah telinganya dan kumasukan tanganku meraih buah dadanya. Kubuka BH Vivi hingga terlepas. Tanganku merasakan langsung buah dada Vivi yang besar dan kenyal. Vivi menolak ketika akan kubuka kausnya. Kurasakan ada tangan menjalar ke penisku, kulihat tangan Maya berada di sampingku di atas pangkuan Tito sedang berciuman. Vivi juga mengulurkan tangannya ke belakang memasuki celanaku dan mulai meremas penisku yang mulai menegang.
Sekitar 10 menit Della mengoral Dino, lalu Della mengambil sepotong kue ulang tahun dan duduk di meja, membuka kakinya. Kue ultah tersebut diletakkan di permukaan buah dadanya dan memanggil Dino untuk memakannya. Awalnya Dino menolak, namun Vivi membisikkan dan memegang pundak Dino serta sedikit mendorong, akhirnya Dino menundukkan kepalanya mulai menjilati buah dada Della. Della menarik kepala Dino agar menekan buah dadanya. Dino merasa sudah kepalang tanggung lalu terlihat Dino mulai mengulum buah dada Della dan menghisap putingnya. Della mendesah-desah sambil memutar pinggulnya di atas meja hingga menambah pemandangan erotisnya.
Setelah buah dadanya bersih, Della mengambil sepotong lagi dan diletakkan di permukaan vaginanya sampai vaginanya belepotan.
“Siapa yang mau makan sekalian bersihin ya, tapi jangan Virano, gua mau lidah yang lain..”
Dino yang sudah terbakar, segera berlutut di lantai dan mulai menjulurkan mulutnya mengambil kue ultahnya dan memakannya, lalu lidahnya dikeluarkan menjilati permukaan vagina Della sampai bersih, Della dengan santainya menggunakan kedua tangannya membuka liang vaginanya dan meminta Dino membersihkan yang ada di dalam. Akhirnya Dino memasukkan lidahnya ke dalam vagina Della. Selama 3 menit mereka bermain di sana hingga Della mengerang keenakan. Penis Dino terlihat sudah tegang sejak awal.
Della bangkit dari meja dan melihat Maya yang masih di pangkuan Tito. Didekatinya Maya dan ditariknya untuk menari bersamanya di samping kursi. Maya yang masih berpakaian lengkap tidak dapat menolak. Mereka menari sambil berpelukan dan terlihat Della mulai menelanjangi Maya yang semula menolaknya namun akhirnya menyerah. Tito dipanggilnya. Maya yang terus bergoyang melihat Della mulai membuka celana tito sampai terlepas, tampak penis Tito mulai mengeras tapi belum full.
“May.. Kasian Tito.. Ngacengnya nanggung.. Isep tuh..” kata Della sambil memegang penis Tito.
Maya yang semula menolak akhirnya menggantikan Della memegang penis Tito setelah tangannya ditarik oleh Della dan tangan Tito sudah hinggap di buah dada Maya, lalu mereka duduk dan melanjutkan percumbuannya, terlihat Maya yang sudah terbakar gairahnya langsung berciuman dengan Tito dan tak berapa lama kepala Tito sudah berada di selangkangan Maya.
Terlihat Vivi sedang mengoral Dino dengan semangatnya, sementara Della mendatangi para cowok satu persatu dan ditelanjanginya mereka, penisnya diremas-remas sampai berdiri tegak dan naik nafsunya, Alvin dan Steve malah sampai hampir orgasme, mereka sudah mengerang dan berteriak serta menggoyangkan pinggulnya membuat penisnya terkocok di tangan Della. Tapi Della segera meninggalkan mereka dan tinggallah pada lelaki blingsatan dengan orgasme yang batal dan akhirnya mengerubuti Maya, Ira dan Ike.
Suasana makin panas, Ira dan Ike sudah tidak malu-malu lagi, mereka pun sudah telanjang, Della mengumpulkan dan berbisik-bisik pada ketiga cewek itu sambil tertawa-tawa. Apa lagi rencana Della? Mereka berempat mendatangi Dino yang sedang dioral oleh Vivi. Maya berbisik pada Vivi yang lalu melepaskan penis Dino dari mulutnya.
“Dino.. Ini tambahan hadiah ulang tahun dari kami” kata Maya.
Maya mendekatkan mulutnya ke penis Dino dan mulai mengulum serta mengocoknya. Lidahnya bermain-main di ujungnya. Dino melihat dan membelalakkan matanya tidak menyangka bahwa malam ini ada 5 cewek yang mengoral dia. Selama 2-3 menit Maya mengoral Dino dan digantikan oleh Ira, selama itu juga lalu Ike yang dengan semangatnya mengoral sampai-sampai Dino hampir orgasme kalau tidak dihentikan oleh Della.
Lalu ketiga cewek itu kembali ke arena meninggalkan Dino yang terbengong-bengong. Aku dan Della hanya berdiri memperhatikan Dino. Della masih telanjang sedangkan aku adalah satu-satunya di ruangan itu yang masih berpakaian. Aku dan Della berdansa slow sambil berciuman lalu duduk tanpa memperhatikan mereka lagi.
Begitulah kelakuan Della dengan caranya sendiri menghangatkan suasana dan menelanjangi semua lelaki. Bagi Della memegang atau bahkan mengoral penis lelaki adalah suatu seni dan kenikmatan tersendiri dan merupakan hal yang biasa seperti halnya berciuman, tapi hanya sampai penis lelaki itu berdiri dan mengeras. Della dapat mengetahui kapan saatnya akan orgasme dan penis itu akan ditinggalkannya, namun tidak akan mudah bagi lelaki lain untuk dapat merasakan vagina Della.
“Ada cowo yang tadi siang orgasme tapi spermanya masih di dalam dan sampai sekarang masih kuat ya” bisik Vivi di telingaku sambil tangannya menyusup ke penisku. Rupanya Vivi sudah selesai mengoral Dino, tercium aroma sperma dari mulutnya
“Buat besok” jawabku singkat.
“Gua pengen sekarang, sperma Dino tanggung, dia udah mabok berat sih” kata Vivi.
“Vi, kalau kontol Virano bisa masuk semua ke mulut lu sekarang, spermanya dikasih hari ini, kalau nggak, besok aja” kata Della sambil tersenyum.
“Gua nggak janji ya, tapi gua mau nyoba” kata Vivi sambil tetap meremas-remas penisku yang mulai mengeras lagi.
Vivi membuka celanaku dan duduk di kursi, penisku tepat berhadapan dengan wajahnya. Penisku ditarik sedikit dan mulai dimasukkan ke dalam mulutnya. Vivi membuka mulutnya lebar-lebar. Setengah sudah masuk, masih belum terasa mentok, kudorong sedikit, Vivi merapatkan mulutnya menjepit penisku, semakin masuk, tinggal 3 cm di luar, mulai terasa ujung tenggorokan Vivi. Kudorong lagi hingga Vivi tersedak. Vivi mencoba lagi 3 kali, tetap tersedak, akhirnya Vivi menyerah dan meneruskan mengocok penisku dengan mulutnya semampu dia.
Della duduk di sebelahku memperhatikan penisku yang keluar masuk mulut Vivi yang sedang berusaha untuk menyelesaikan perjuangannya menaklukkan aku. Vivi menjilati seluruh batang penisku sampai ke bawah kantung zakarku, kugeser pantatku ke depan sambil kutekan sedikit kepala Vivi sehingga jilatannya mengenai ujung anusku sambil tetap tangannya mengocok penisku.
Kembali penisku dimasukkan ke mulutnya dan dikocoknya sambil lidahnya bermain di ujung kepala penisku. Della mengulurkan tangannya dan memasukkan jarinya ke dalam anusku. Kocokan Vivi makin cepat saat mendengar desahanku yang mulai kencang. Akhirnya aku menyemburkan spermaku di dalam mulut Vivi dan ditelannya sampai habis. Tampak wajah Vivi yang puas karena telah berhasil menaklukan aku.
“Nggak bisa masuk semua ke dalam mulut lu kan? Ada tekniknya, emang tadi sore lu belum diajarin Virano di S?” tanya Della.
“Jahat lu, Della diajarin, kok gua nggak” kata Vivi sambil meremas dan mengocok penisku dengan tangannya.
“Tadi mana sempat, takut ada orang lewat dong..” jawabku.
“Emang kalian main dimana tadi sore?” tanya Della.
“Sauna sama jacuzzi” jawab Vivi.
Akhirnya aku naik masuk kamar meninggalkan Della dan Vivi di bawah sementara Dino sudah tergeletak tidur karena mabuk, tidak tahu apa yang terjadi di ruangan sana dengan jumlah yang seimbang antara cowok dan cewek. Aku tertidur sebentar.
Menjelang jam 3 pagi, terdengar pintu terbuka, Della bersama Vivi masuk dalam keadaan telanjang bulat. Della duduk di pinggiran ranjang membelakangiku dan Vivi di kursi sambil menyalakan sebatang rokok putih.
“Vi.. Lu mau ngisep lagi kan?” Della membuka front sambil tangannya merambat ke belakang meraba penisku. Aku membalas dengan meremas buah dada Della yang berada di depanku.
Lalu Della bangkit serta manarik tangan Vivi untuk mendatangiku. Della menciumku dengan ganas dan tangannya menarik tangan Vivi agar memegang penisku. Aku tak tinggal diam, aku berdiri sambil meraih pinggang Vivi, kutarik ke dalam pelukanku sambil kucium bibirnya, lidahku kumasukkan ke dalam mulutnya. Vivi tak kalah panas, lidahnya menyusuri seluruh permukaan bibirku lalu mendorong lidahnya ke dalam mulutku. Lidah kami bertautan. Vivi mulai menjilati leherku. Aku bisiki sesuatu pada Della, lalu dia tersenyum.
Jilatan Vivi mencapai seluruh permukaan leherku, lalu Vivi menarik kausku lewat kepala. Della memeluk Vivi dari belakang sambil meremas-remas buah dadanya. Vivi keenakan sambil memegang tangan Della untuk terus meremasnya. Tangan Vivi turun mengarah ke penisku dan meremasnya. Seketika penisku mengeras.
Sementara tangan Della sibuk meremas buah dada Vivi dari belakang, aku mengelus vaginanya dan mencari clitorisnya, kutekan sambil kuputar-putar jariku memberi rangsangan pada clitorisnya. Vivi semakin liar menciumi tubuhku. Della sudah berjongkok di bawah menarik penisku memasuki mulutnya. Penisku yang belum mengeluarkan sperma sama sekali langsung berdiri dan mengeras di dalam mulut Della, sementara jari tanganku sudah memasuki vagina Vivi, kukocok keluar masuk, kutambah dengan satu jari lagi hingga Vivi menggeliat keenakan.
Vivi mendorong aku duduk di sofa dan dia berjongkok meraih penisku dan mulai menjilati ujungnya sampai seluruh lingkaran kepala penisku. Della tak tinggal diam, dia naik ke sofa, duduk di perut membelakangi aku, sehingga aku melihat punggung dan vaginanya tepat di depan mulut Vivi yang sedang menghisap penisku. Vivi tidak bereaksi melihat vagina Della, lalu Della berbalik dan menyodorkan vaginanya ke mulutku, langsung kutangkap dengan bibir dan lidahku mengorek-ngorek vaginanya.
“Vir.. Enaakh vir.., lebih dalem lagi viir..” desah Della.
Sementara Vivi sudah memasukkan penisku ke dalam mulutnya, cuma masuk setengahnya dikarenakan posisi dudukku yang membuat ruang gerak Vivi menjadi terbatas. Aku berbaring di sofa, sekarang Vivi naik ke sofa, berlutut di antara kakiku dengan mulut yang masih penuh terisi penisku. Kepalanya mulai naik turun sehingga mulutnya mengocok penisku. Dalam posisi ini, pantat Vivi menungging ke atas, lalu Della berjongkok di wajahku dan menekankan vaginanya ke mulutku, aku bermain-main dengan vaginanya, kukorek vaginanya dengan lidahku, kuputar lidahku di dalam vaginanya hingga Della makin kencang menekan vaginanya di mulutku.
Tak lama, Vivi memutar tubuhnya sehingga kami berposisi 69, perputaran Vivi agak mendorong Della sehingga vagina Della yang sedang aku jilati digantikan oleh vagina Vivi. Aku dapat menjilati vaginanya dengan lapang dan Vivi dapat mengulum penisku dengan leluasa. Dalam posisi ini, Della berlutut di belakang kepalaku dan wajahnya diturunkan serta berusaha mencium bibirku.
“Vi.. Lebih dalam lagi..” aku mendesah.
Vivi berusaha untuk memasukkan penisku lebih dalam lagi, namun tetap tidak dapat masuk semua sampai kadang dia tersedak. Lidahku menggapai vagina Vivi, kujulurkan serta kujilat seluruh permukaan vaginanya. Vivi mengerang keenakan. Dalam kesulitan Della mencapai mulutku, akhirnya Della menemukan pantat Vivi di depan mukanya, Della menjilati permukaan pantat Vivi, merambat sampai permukaan lingkaran anusnya, dilingkarinya anus Vivi memakai ujung lidah Della yang tajam. Kedua lubang Vivi diserang oleh lidahku di vaginanya dan lidah Della di anusnya. Lalu Vivi menengadahkan kepalanya melepaskan penisku dari kulumannya.
“Aasschh.. Hhuuhh.. Oocchh.. Viirr.. Apa yang kau lakukan..?” teriak Vivi. Dia menolehkan kepalanya melihat apa yang terjadi.
“Dell.. Ngapain luu .., oocchh.. Enaakkhh..”. teriak Vivi sambil menggelengkan kepalanya.
Mendengar desahan itu, aku dan Della semakin bersemangat, kuputar lidahku di dalam vagina Vivi, Della pun mulai mendorong lidahnya memasuki anus Vivi sedalam-dalamnya dan memutar lidahnya.
“Acchh.. Guaa.. Bisa keluuaar niicchh..” jerit Vivi.
Aku dan Della makin bersemangat lagi, secara bersamaan, aku hisap vagina Vivi dan Della menyedot anus Vivi sekencang kencangnya. Vivi tidak dapat manahan orgasmenya lebih lama lagi hingga dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil sebelah tangannya meremas-remas buah dadanya.
“Huucchh.. Acchh.. Acchh.. Gua keelluuaarr”
Terasa vagina Vivi makin becek dan cairan vaginanya mengalir di mulutku. Vivi ambruk dengan kepala diselipkan di selangkanganku. Mulutku dan mulut Della yang lepas dari vagina dan anus Vivi bertemu dan aku berciuman dengan Della saling bertaut lidah dan merasakan cairan vagina Vivi.
“Kalian gila ya.., belum pernah gua ngerasa orgasme kaya tadi, sensasinya kaya di ujung langit” ujar Vivi.
“Itu pembukaan dari gua sama Virano, tuh kontolnya masih tegang, tugas lu sekarang” kata Della.
Lalu Vivi mengambil posisi berlutut di pahaku dan menundukkan kepalanya lagi, menjilati dari pangkal hingga ujung penisku, sementara Della menindih tubuhku dan menurunkan badannya sampai posisi vaginanya berada di perutku dan buah dadanya ada di wajahku. Sementara Vivi mengulum dan menjilati penisku, Della makin menurunkan badannya hingga vaginanya juga berada tepat di wajah Vivi. Dalam posisi seperti ini, Vivi tidak dapat menghindar lagi hingga akhirnya Vivi sesekali juga menjilat vagina Della. Kadang Della menekuk pantatnya hingga jilatan Vivi terkena anusnya. Dalam keadaan ini, konsentrasiku kacau sehingga tidak dapat merasakan nikmatnya dan jauh dari orgasme.
“Dell.. Kontol segede gini susah gua ngisepnya, gua mau liat isepan elo dulu dong” kata Vivi.
Della bangkit berbalik lalu menunjukkan cara dia menghisap. Della memulai dari ujung penisku, bibirnya dilingkarkan di permukaan kepala penisku, ujung lidahnya dipakai untuk membelah garis kecil di sana, lalu Della mulai menyedot perlahan sambil keluar masuk sedikit demi sedikit, sementara tanganku meremas-remas buah dada Vivi dari samping.
“Acchh.. Dell.. Enaak.. Dell..” aku mengerang.
Della mulai beraksi, hampir semua penisku masuk ke mulutnya, tinggal 3 centi lagi. Dia menarik nafas panjang, lalu kembali mendorong mulutnya sampai penisku masuk semua ke dalam mulutnya. Kulihat wajah Vivi terheran-heran melihatnya. Akhirnya Della melepaskan penisku.
“Kok jadi gua yang ngisepin kontol dia, elo dong, nih.. Isep.. Masukin kaya gua tadi” kata Della pada Vivi.
“Gua nggak janji bisa masuk semua ya, gua coba dech” kata Vivi.
“Jadi kontol gua mau dipake buat percobaan ya” protesku.
“Bukan percobaan tapi buat belajar, kontol Dino sih bisa gua telen semua, pinjem ya” kata Vivi.
“Bentar Vi, gua ganjel dulu pantat Virano pake bantal, lu isep kontolnya, gua mau ngisep anusnya” kata Della.
“Gua juga pengen tahu ya gimana tadi lu memperkosa anus gua.. He he he” kata Vivi lagi.
Della menyelipkan kepalanya di antara pantatku dan lutut Vivi, lalu mengangkat kakiku ke atas dan mulailah wajahnya mendekati selangkanganku. Dibukanya belahan pantatku memakai kedua jarinya lalu lidahnya mulai bermain di anusku. Perlahan lidahnya menari-nari di permukaannya, lalu dengan tiba-tiba lidahnya didorong masuk ke dalam anusku.
“Aduuhh Del.. Niikmaat.. Ennaak Del..” jeritku.
Jeritanku menyebabkan Vivi berhenti mengulum penisku, dia melihat bagaimana cara Della bermain dengan anusku dalam jarak yang sangat dekat. Lalu Della memutar-mutarkan lidahnya di dalam anusku, rasa nikmat dan enaknya tidak terhingga. Tiba tiba Della mencabut lidahnya dan langsung menghisap anusku kencang hingga menyebabkan perasaan seakan terbang menggapai kenikmatan.
“Vi, mau coba nggak yang kaya tadi” kata Della.
“Ntar dulu, kontol ini aja belum abis, gua mau coba dulu kaya lu tadi” jawab Vivi.
Lalu Vivi kembali mencoba untuk menelan penisku sampai sedalam-dalamnya, Della mengajari untuk melonggarkan lehernya agar penisku mencapai tenggorokannya. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Vivi berhasil sampai bibirnya menyentuh dasar penisku.
Bagai anak kecil yang mendapat mainan baru, Vivi terus bermain dengan penisku, semakin lama semakin lancar menelan penisku sampai akhirnya Vivi bisa mengocok penisku sampai ke dasar dengan mulutnya yang berarti keluar masuk tenggorokannya. Lalu Vivi mulai membuka belahan pantatku dan menempelkan lidahnya di luar anusku, mula mula hanya dicium lalu dijilatnya memutar.
“Lidah lu dikerasin, lalu dorong masuk ke dalam” kata Della. Vivi mencoba, namun belum senikmat Della, setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Vivi bisa juga.
“Sekarang saat lidah lu di dalem, puter lidah lu, lu poles sekitar dinding dalam anusnya” perintah Della dan Vivi mencobanya. Tidak ada kesulitan mengerjakannya.
“Sekarang lu cabut tapi sekaligus lu sedot yang kenceng” perintah Della lagi. Vivi mencobanya tapi berkali-kali gagal. Akhirnya Vivi menyerah.
“Lu berdua memang gila ya, gua banyak belajar hari ini, baru pernah gua orgasme seperti tadi, ntar gua praktekin ke Dino” kata Vivi.
Kulihat Vivi sambil duduk menggesek-gesek clitorisnya sendiri, tampaknya dia belum puas dan minta tambah. Kutarik dia dan kuminta dia menungging berpegangan pada sandaran ranjang. Lalu aku duduk di belakangnya. Kumasukkan dua jariku ke dalam vaginanya dan kukocok-kocok perlahan hingga Vivi mengerang.
“Oochh.. Aacchh..” rintihnya.
Perlahan kujilat anusnya lalu kukorek-korek lubangnya. Kulakukan seperti apa yang dilakukan Della padanya dan pada Vivi tadi. Pada dasarnya aku dan Della punya kesamaan yaitu sangat menyukai anus tapi bukan sodomi karena di sekitar anus itulah terletak banyak sekali ujung-ujung syaraf yang membawa kenikmatan tiada tara, jadi kami hanya menggunakan lidah dan mulut untuk menjilat dan menghisap, dimana teknik serta cara kami hampir sama.
Della menarik pantatku sehingga aku berlutut di sofa dan kembali Della bermain-main dengan anusku, sementara aku arahkan penisku ke lubang vagina Vivi dari belakang hingga Vivi mengerang keenakan.
“Aach.. Teruus viir.. Teekaan.. Lebih dalem Viirr..” Desah Vivi. Langsung aku tancap dengan kecepatan tinggi, aku tahu bahwa Vivi sebentar lagi orgasme, aku tak mau menunda lagi.
“Oocch.. Oocch.. Gua kelluuearr..” jerit Vivi, tangannya mencengkeram sandaran ranjang.
“Truuss Viir.. Jangan berhenti.. Gua juga hampir..” desahku.
Aku tekan sedalam-dalamnya dan aku kedutkan ototku sampai Vivi menjerit kecil untuk tiap kedutannya karena spermaku membentur dinding vaginanya. Lalu Vivi roboh lunglai ke ranjang sementara Vagina Vivi masih tepat menempel di wajah Della, ternyata Della sudah menyelipkan kepalanya di bawah Vivi sehingga dapat melihat dengan jelas penisku yang keluar masuk vagina Vivi.
Della menarik penisku lalu dihisap dan menjilatinya sampai bersih, karena posisi mulut vagina Vivi tepat di atas mulut Della, waktu Della menjilati penisku, terlihat spermaku meleleh keluar dari vagina Vivi dan menetes tepat di bibir Della lalu Della menjilati sekeliling vagina Vivi untuk membersihkan sisa spermaku yang meleleh keluar.
Kemudian kami bertiga lunglai dan tertidur dalam kepuasan yang luar biasa.
E N D
READ MORE » At The Party
 
© 2015 Gado-Gado Crito | Blogger.com